Monday, 7 May 2012

copying D's note



"Enamorarse de Claudia"


"lihat ke langit..bintang berjatuhan karenamu.."

kata-kata sederhana….namun cukup mencairkan kebekuan hati…

sudah lama sejak pujangga ini menganggur..dia cuma duduk termenung di sudut otak…

sudah lama sejak cupido menembakkan panah kecilnya..

sudah lama sejak aphrodite lupa akan namaku…

aku sudah merasa ada yang beda..

walau sama tersesat di dunia maya…terpisah dinding, udara, elektrik, dan binari

dan dia memang berbeda…

setelah rasakan kenyataan..bukan sekedar ucapan manis tersusun alfabet

setelah hangat merasuk..dan nadi berdetak lebih cepat…

walau jalan masih lebih berkabut dari East End…takkan tersesat

semoga bukan euforia semata…karena hati kecil terus berbisik

semoga bukan kesenangan sesaat…karena dia terlalu indah untuk jadi nyata

semoga aku bisa menjaganya…







written by Dikie Nugraha, 14 Maret 2006

Wednesday, 2 May 2012

sesat #7 - dear diary

Dear Diary,

Apa lihat-lihat?

Bukan salah saya lho.

Eh, saya salah emang?.

Enggak ah, bukan salah saya.

Kamu tahu kan kalo saya bukan tipe wanita yang suka berdandan heboh kayak mau ke kondangan. Saya bukan tipe wanita yang suka berpakaian seksi kayak mau clubbing. Saya ga suka ke salon cuma buat creambath, facial, dan menicure pedicure. Saya ga pernah menyambangi dokter kecantikan untuk suntik vitamin C apalagi botox.

Kamu tahu juga kan kalo saya wanita berusia jalan 31 tahun yang cuma berdandan sekedarnya, bahkan ketika berangkat ke kantor, saya menyapa tetangga-tetangga yang sedang menyapu, menggendong anak balitanya, pulang dari belanja harian atau sekedar jogging, dengan tanpa make up. Oh iya, saya lupa menyampaikan bahwa di umur segini ini saya masih single. Pacar pun belum punya. Aneh?

Untungnya yah, saya ga hidup di masa Emak-Bapak saya. Dimana saat itu kalau seumur 17 ga juga nikah, orang tua yang sibuk mencarikan jodohnya untuk anaknya. Sekarang saya hidup di era Kartini. Sebenarnya bukan karena keasikan bekerja sehingga saya ga kunjung mendapatkan jodoh, karena jujur saja karier saya tak segemilang wanita-wanita metropolitan yang doyan belanja Prada atau Banana Republic yang harganya ga jauh beda sama ZARA. Karena alasan hemat pun, saya lebih suka "blusukan" ke Pusat Grosir atau Mall kelas rendah agar dengan uang 500ribu saya dapat novel percintaan, buku psikologi, make-up baru, daleman baru, baju jalan dan kerja baru, dan sepatu flat baru dalam jumlah yang lebih dari 1 masing-masing item-nya.

Lalu, pergaulan saya?. Cukup luas. Dari genk semasa SD, SMP, SMA, Kuliah, trus kenalan teman dan rekanan kantor, teman-temannya mantan saya juga masih baik semua, saya sering nongkrong ke club sekedar liat band akustik dan memesan Shirley Temple, saya aktif di organisasi "anak-anak gemar membaca" jadi sebenarnya ga ada kata buntu mencari pasangan. Kata teman-teman, saya orangnya sumeh, alias suka menebar senyum. Bahkan kadang saya suka senyum-senyum sendiri (Saya sehat, tidak terkontaminasi kata "gila").

Mau tahu kenapa saya kesulitan mencari pasangan. Karena pria-pria yang naksir dan mendekati saya itu sudah beristri semua. Bahkan ada yang sudah beranak. Tetapi mohon dicatat, mereka bukan Om-om atau pria yang jauh lebih tua dari saya. Mereka masih muda. Lebih muda dari saya. Kalo kata Alena, sahabat saya, mereka itu bak "botok" sebutan orang jawa dari sejenis makanan yang dibungkus daun pisang kemudian dibakar. Luarnya daun muda, dalamnya matang karena proses hidup. 

Kamu menuduh saya pakai susuk?.
Daripada pakai begituan mending uangnya saya beliin buku buat nyumbang bacaan untuk anak-anak di Papua. Karena saya belum punya anak dari rahim saya sendiri, tampaknya hal yang paling mulia dan bermanfaat adalah membantu anak-anak Indonesia belajar membaca dan menulis kan. 

Kembali lagi, tentang pria-pria tadi. Saya menyebut pria-pria karena selama saya "naik daun" itulah, kira-kira ada 6 pria menikah yang mendekati saya. Sekedar menggoda, lalu lama-lama saya yang tergoda menemuinya di sebuah kamar hotel selepas jam kerja. Sampai pada suatu hari, istri dari si pria menikah yang terakhir memergoki kami makan siang bersama di sebuah warung soto ayam (iyaa, warung. Tapi masih aja ketahuan) karena kebetulan sang istri secara tiba-tiba ingin mampir ke bakery shop sebelah warung yang-padahal-berada-di-ujung-bumi-tak-mungkin-dijangkau-dengan-kemampuan-sang-istri-menyetir-mobil. 

Emang ya, bom waktu itu ada. Baru aja kami jalan 6 bulan, dan si dia juga udah punya niat jaga jarak sama sang istri demi saya, eh sampai akhirnya ketahuan si dia malah nurutin istrinya buat ninggalin saya. Padahal dia orangnya romantis buuaaanget (dibandingkan pria-pria menikah terdahulu) dan selama 6 bulan ini saya terlanjur 'terbiasa' dengan perhatiannya, tiba-tiba harus hilang gitu aja. Nyesek pemirsa. Setelah kejadian itu saya kapok. Gak mau lagi tergoda sama pria beristri. Gak mau lagi ada pria beristri yang ke 7. 

Itu ucapan saya 2 bulan lalu. Sampai barusan saya sadari, bahwa menantu dari tetangga saya yang jaraknya 4 rumah  di sebelah kanan rumah saya, itu (ternyata) sering mencuri pandang. Jika bertemu di jalan saat hendak berangkat kantor, dia sengaja membuka kaca jendela dengan tingkat keburaman 70% mobil Vios putihnya lebar-lebar sampai dia melewati rumah saya. Jika bertemu jam pulang kantor, dia berlagak mengelap mobilnya yang sama sekali ga kotor demi bisa berada di luar beberapa saat sebelum saya akhirnya masuk rumah. 

Dan hal itu tidak ia lakukan sekali dua kali, makanya saya bisa menyimpulkan dia pasti kenapa-kenapa sama saya. By the way, saya ga pernah bergaul sama si istri padahal kalau ga salah kami dulu satu kampus. Bahkan saya ga pernah liat ada temen cewek atau cowok yang ngapel kerumahnya, eh tau-tau dah nikah aja dia (uda gitu ganteng pula, hadeeeh). Saya yang berganti-ganti pacar dan menginginkan menikah dari 5 tahun lalu aja ga kesampaian. (Nyesek lagi).

Disaat kami secara tidak sengaja bertemu di Club House perumahan tempat kami tinggal dan dia menempati treatmill sebelah saya. Singkat cerita saja ya, karena ini saya gak lagi nulis novel, kami bercakap-cakap.  Setelah diperhatikan dari dekat, orangnya mirip Collin Farrel versi Indonesia pokoknya. Ga se-laki si Collin, tapi bentuk wajahnya dan sorot matanya mirip banget. Ehem. Sayang punya orang. KATAKAN TIDAK UNTUK SELINGKUH KALI INI!!!!. fiuh, "Ya Tuhan kasih saya jodoh dong".

Saya ga melanjutkan perkenalan itu. Saya ga lagi membalas curi-curi pandangnya. Bukan karena saya ilfil. Tapi saya udah ga mau lagi jadi benalu. Jodoh saya nanti semakin jauh. Hikz. Si Collin yang bernama Ludy ini menikah ta'aruf dengan Hayu, tetangga saya. Dijodohkan orangtua. Dinikahkan. Ga boleh pindah dari rumah orangtua. Oh pantes. Sekian. 

Lho kenapa?. Lha abis, kalau dia emang cinta banget sama istrinya ngapain dia curi-curi pandang ke saya yang notobene 11-12 sama sang istri (Cantikan saya dikit sih). Menikah dijodohkan ga selamanya ga timbul cinta sih, ga juga karena ga bahagia karena harus tinggal di Pondok Mertua Indah, tapi karena mereka sampai 3 tahun pernikahan ini belum dikaruniai putri/putra, tampaknya masa "grow old together" ini sedang berada dalam masa evaluasi. Selebihnya, saya pamit pulang. Saya gak mau denger curhat colongan dia lebih lama daripada nanti saya jatuh cinta sama dia. Karena jung-ujungnya saya juga ga akan bisa dapetin dia. Titik. Aduh bibirnya, mungil pengen dikecup...

*PLAK*

sadar Ve...

Kekapokan saya benar-benar beralasan. Selain kuatir jauh jodoh, saya gak mau nantinya suami saya juga selingkuh. Dari pengalaman saya, mereka, pria beristri dan berselingkuh, memiliki berbagai macam alasan.

1. Daru, 26 tahun, menikah 2 tahun. Mengaku bahwa sang istri tidak pernah bisa menghargai usahanya untuk menjadi suami yang baik. Dia merasa sang istri lebih sering cemberut dirumah karena merasa dinomorsekiankan daripada pekerjaan, sedangkan dia sendiri sudah malas untuk memberikan pengertian. 

2. Jibril, 29 tahun, menikah 4 tahun. Pada dasarnya pria ya begitu itu, suka tergoda. Meski dia bukan pria brengsek dan tidak merencanakan untuk menjadi pria yang tidak setia. Tapi kalau saja saya tidak menyambut gayungnya, dia juga akan berkali-kali mikir mo selingkuh. Hmm, ini salah saya berarti ya?. Jadi wanita tuh harusnya lebih tahu diri dengan status seseorang. Noted, Ve...

3. Nabel, 28 tahun, menikah 6 bulan. Kebetulan bekerja di lingkungan yang tidak sehat. Club tempat saya mingle. Yang penuh dengan orang-orang ga jelas menghambur-hamburkan uang demi kesenangan semu. Serius, jangan cari jodoh di Club lain kali. Lingkungan dan pergaulan bisa menyebabkan selingkuh akut.

4. Rei, 28 tahun, menikah 1,5 tahun. Saya sudah kenal lama sih, dia pemilik supplier Komputer di kantor saya. Tapi entah ya, setelah menikah justru rasa percaya dirinya semakin meningkat dan lalu sering menggoda saya. Oh iya, dia oke di ranjang. Ups...

5. Udji, 29 tahun, menikah 10 tahun. Yup, setelah memasuki bangku kuliah dengan segera dia menikahi pacarnya yang baru lulus SMA di kala itu. Awalnya, sang istri yang masih muda itu selalu terlihat fresh walau dirumah saja. Setelah anak kedua mereka lahir, dia semakin malas berdandan, malas memasak, dirumah hanya memakai daster belel, bau badan, dibeliin lingerie ga mau pake, diajak kemana-mana ga bikin bangga lagi. Dear para istri, menikah dengan suami bukan berarti anda telah memenangkan kompetisi diluaran sana. Jika anda tidak pandai menjaga diri, maka anda tidak akan bisa menjaga suami anda.

6. The Last, Yadra, 28 tahun, menikah 5 tahun. Dia merasa istrinya berselingkuh, karena mulai sering keluar rumah sendiri, mencari-cari topik pertengkaran, sering tidak mengangkat telepon atau bbm darinya, dan kadang menolak berhubungan dengan alasan capek. Istri loh ini yang nolak...mana boleh istri menolak hasrat suaminya, dosa lo (katanya sih). Jadinya dia "membalas dendam" abaian istrinya itu dengan memberikan saya perhatian. Usut punya usut, sang istri rupanya sedang (merasa) dilanda friginitas dan karena tidak memiliki keberanian untuk berbicara dari hati ke hati, sang istri berkonsultasi ke psikolog. Yup, kejadian ketemu di bakery itu rupanya pemberhentian perjalanan menuju tempat praktek si Dokter. Ga lama dari hari itu, saya dikirimi capture screen bbm dari sang istri, "Aku rasa kita hampir kehilangan sesuatu yang penting dalam pernikahan kita, dear...tapi aku tak mau membuatnya lebih hilang lagi." diikuti dengan caption "Maafkan aku Ve shayank, selamat tinggal..."  

Well diary, 

Segini dulu yah omelan saya. Jujur saya marah sama diri saya sendiri kenapa bisa-bisanya (hampir selalu) menarik pria beristri instead of pria single atau paling ga sudah duda. Apa wajah saya terlalu matang (baca:tua) untuk menjadi incaran pria beristri?. Tapi enggak ah, wong mereka brondong gitu. Apa saya keliatan dewasa (baca:berpengalaman) dalam hal seksual?.

Intinya, saya memang malas bertanya secara langsung apa kelebihan saya di mata mereka. Karena 4 diantara 6 menjawab, apa cinta perlu alasan?. Ooouh puhlisssss... love sama lust beda kaleeee.

Sudah ah..

Mingle lagi yuk Dy :)

Lo,
VE...

Monday, 30 April 2012

antara halo dan bye

Kata orang, cinta tak harus memiliki. Tapi lain halnya untuk aku. Bila menginginkan seseorang, aku tidak pernah tidak bisa mendapatkan orang itu. Jatuh cinta sama kamu itu berkah. Untuk mendapatkanmu adalah tantangan. Sudahkah aku mengatakan tadi bahwa aku lebih suka mengejar daripada dikejar?. Iya, aku ingat sejak pertama aku melihat kamu, aku berusaha hadir di tiap keberadaanmu. Aku berusaha ada di lingkungan pergaulanmu. Aku berusaha menjadi diriku sendiri agar membuatmu nyaman bersamaku. Aku mengesampingkan rasa cemburu dan ingin memiliki yang terlalu besar ketika mendengar kamu memuji wanita lain di depanku.

Tidak dalam sekejap, akhirnya aku benar-benar bisa memiliki kamu. Hanya saja, mempertahankan apa yang kudapatkan tidak semudah usahaku meraih cintamu. Aku merusak kepercayaanmu. Aku sendiri yang menghancurkan hatimu. Aku yang lalu hidup denganmu tapi tak merasakan cintamu yang tulus lagi karena kamu takut aku akan menyakitimu lagi. Kamu tak lagi mengagumi aku seperti dulu. 

Kehadiranku sekarang lebih sering menyakiti daripada membuatmu bahagia. Ketika aku tak bisa menuruti keinginanmu. kamu terluka. Ketika aku berkata kasar tak tahan dengan perlakuanmu, kamu sakit hati. Ketika aku tak bisa kamu buat mengerti akan keadaanmu, kamu menderita. Kamu tak ingin aku mengingat masa lalu. Tapi kamu selalu mengingat kesalahanku. Tak ada istilah membuka lembaran baru denganku. Karena itulah kehadiranku membuatmu tak tenang.

Aku masih mencintai kamu. Sama seperti saat aku melihatmu 27 bulan yang lalu. 
Aku masih mengingatmu. Seperti yang pernah kamu bilang, "Aku akan membuatmu susah melupakan aku..."
Aku masih menginginkanmu. Tapi memberikan kesempatan padamu untuk menanggalkan aku sejenak mungkin yang terbaik.

Berikan cinta ini ruang untuk bernafas. Bila cupid kembali memanah panah cintanya tepat di hatimu dan hatiku lagi, kita akan bertemu kembali.

Monday, 23 April 2012

sesat #6 - cium

Ternyata ada bedanya. Ketika kamu bercinta dengan orang yang benar-benar menginginkan kamu, dan yang hanya menginginkan desahan nafasmu, jilatan nafsumu pada kelaminnya, dan peluh kenikmatan di akhir permainan. 

Ternyata ini bukan sekedar style. Bahwa setiap orang yang jatuh cinta, bukan tubuh yang Ia inginkan pertama. Tapi bibir. Bibir adalah organ indra sentuhan. Sekedar mencumbu sampai ber-french kiss, bibir lah yang mengenalkan mu kemudian dengan anatomi lain dari tubuh pasanganmu.

Ternyata dia membuatku buta. Dia bilang "aku cinta". Dan aku selalu menyukai adegan tiap adegan kami bercinta. Pertemuan kelamin yang ke tiga belas adalah yang terakhir kalinya. Sederhana.

Bibirku kalut hanya mencumbu penisnya yang terkadang berbau pesing. Juga rambut kemaluannya yang lebat seringkali tertinggal di sela-sela gigi, tersembunyi di balik lidah, atau nyangkut di tenggorokan. Bibirku ingin sesekali berkenalan dengan bibirnya yang menghitam karena rokok, merasakan nafas dan bertukar ludah beraroma kopi hitam kesukaannya. 

Dia tidak cinta. Dia terluka. Kekasih meninggalkannya dibulan ke tiga puluh lima. Salahku menerima, karena aku menyukai ketampanan dia. 

Aku mencuri bibirnya tatkala ia terpejam. Dengan gunting sekali iris, aku berlari keluar kamarnya yang ramai akan suara pria mengutuk...

"...OMOOO HANGSAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAATTTTTTTTTTTT....!!!!"   


Kalau aku homo, dia apa?. Ah tak apa...yang penting kini aku memiliki bibirnya yang memerah dan basah. Akan aku cumbu cumbu setelah sampai di rumah.





monday morning rain is (not) falling
office hour



Wednesday, 28 March 2012

sesat #5 - Beauty Case

Aku mengoleskan foundation 1 nomor dibawah warna kulit Bunda yang kuning langsat. Bundaku, berusia 55 tahun tanggal 5 April esok. Saat ini, Ia memintaku untuk mendandani wajahnya yang ayu, yang pastinya menurun padaku (Ehem, sekali-sekali memuji diri sendiri itu perlu, hehe), karena ia akan menghadiri rapat sebuah Partai yang sedang berkembang di Indonesia. Bunda memang begitu. Lebih suka beraktivitas di luar  daripada harus berada di dalam rumah dalam waktu yang lama. Bisa-bisa, 2 hari sekali Bunda mengganti posisi furniture dalam rumah saking bosannya berdiam diri. 

Aku meratakan bedak powder pada dahi, pipi, hidung dan dagu Bunda. Bunda masih melakukan perawatan wajah agar kulitnya terlihat cerah, aku mengaku kalah. Aku tak terlalu suka dengan segala bentuk perawatan. Kontras sekali dengan profesiku sebagai MakeUp Artist yang selalu berhubungan dengan berbagai macam merek rias wajah dan produk penata rambut. Aku cukup menjaga diriku dengan banyak minum air putih, makan buah bengkuang, dan mandi 3 kali sehari. Bunda menoleh ke cermin, memagut dirinya sebentar lalu menoleh padaku dan berpesan, "Jangan terlalu menyolok lho make up-nya."

Aku memulaskan eyeshadow mahoni, tembaga dan coklat pada kelopak mata Bunda yang sayu, juga menegaskan garis alisnya dengan pensil alis warna coklat. Bola matanya kecoklat-coklatan seiring dengan bertambahnya usia. Kerutan tampak pada sekitar mata. Kerutan kelelahan. Salahku juga, aku jarang sekali mengunjungi Bunda sejak aku menikah dua tahun lalu. Tapi Bunda tak pernah mengeluh. Meski aku tahu hatinya berkata lain.

Terakhir, aku membubuhkan blush-on warna peach pada pipi yang mulai menirus dan lipstik sewarna dengan bibir Bunda. Aku menoleh kearah ruang kerja disamping kamar Bunda. Disana ada Papa, seorang pria 5 tahun lebih muda dibanding Bunda dan merupakan suami Bunda setelah meninggalnya Ayah 13 tahun lalu, yang tanpa cacat mencintai Bunda dan membantu membesarkan aku, Nada, anak semata wayang Bunda, sedang menekuri layar monitor komputer di depannya. Bermain catur online.

Aku menyisir rambut Bunda yang baru kemarin dipotong pendek sebahu karena menurutnya sudah keterlaluan rontoknya. Bagian tengah mulai memutih kembali, biasanya kalau sudah begitu Bunda ribut  minta disemirkan. Waktu aku mengusulkan untuk membiarkan rambutnya memutih seperti Tante Reggy Lawalata, Ia menolak mentah-mentah. Bunda selalu ingin kelihatan berjiwa muda. 

Selesainya aku menyisir dan menata rambut Bunda, ia beranjak menuju tempat dimana Papa berada, mengecup pipi, dan berkata akan menyiapkan makan siang untuk Papa. Ini yang aku kagumi dari Bunda dan berharap bisa mencontohnya. Meski pernah tersakiti, Bunda masih setia melayani Papa yang dari setahun lalu terkena stroke permanen. Kaki dan tangan kirinya masih lumpuh sehingga untuk berjalan juga bergantung pada sebuah tongkat policare aluminium, membuatnya tak bisa bekerja kembali dan menghidupi keluarganya. Bunda mengambil alih tugasnya menjadi kepala keluarga. Sebagai putri satu-satunya, aku pun tak pernah absen membantu orang tuaku. 

Papa, ternyata pernah mengkhianati Bunda. Suatu hal yang baru aku ketahui setelah papa tiba-tiba jatuh sakit. Hampir setahun Bunda menyimpan perasaan pedih untuk dirinya sendiri, terutama setelah aku menikah, mungkin ia tak ingin menyusahkan aku yang sedang bahagia-bahagianya mengawali rumah tangga. Perempuan muda dan cantik itu, warga negara Indonesia yang bekerja sebagai Editor Tabloid Mawar, sebuah tabloid informasi bagi pekerja wanita Indonesia di Hongkong. Mereka berkenalan di situs pertemanan yang hingga saat ini masih eksis. Hubungan mereka semakin intens ketika ia menawari Papa bekerja sebagai Creative Designer tabloid tersebut. Pekerjaan yang membuatnya sebulan sekali terbang ke Hongkong meski dapat dikerjakan di balik komputer ruang kerja Papa. 

Bunda menyimpan dalam ingatannya. SMS dan e-mail mesra dari perempuan itu untuk suaminya. Begitu pula jawaban Papa yang tak kalah mesranya untuk perempuan itu. Bunda membuang jauh bayangan buruknya tentang hubungan mereka. Apa saja yang kira-kira mereka lakukan bila suaminya sedang berada di Hongkong. Kamu percaya karma?, I do. Beberapa bulan Bunda menahan, tak ada pertengkaran atau pun perselisihan sebelumnya, tiba-tiba Papa terkena stroke. Mungkinkah itu karma?.

Berada di Rumah Sakit selama 2 bulan tak menggetarkan kesetiaan Bunda. Tangisan Bunda barulah pecah ketika perempuan itu semakin menunjukkan keberadaannya pada seluruh keluarga besar kami. Sampai suatu ketika Bunda berteriak, "Kalau Mas tetap ingin berhubungan dengan dia, silahkan. Aku yang akan pergi." 

Papa, dengan ketidakberdayaannya, memilih kembali pada Bunda. Pada keluarganya. Luka itu tak pernah disebut lagi oleh Bunda. Tapi luka itu tak pernah hilang. Wajah Bunda yang kudandani tak lagi berseri-seri seperti dulu. Senyum ayu nya pun tak mampu menutupi pedih itu. Cinta mereka mungkin tak lagi sama, namun satu yang tetap dipegangnya, Komitmen akan mencintai dalam suka maupun duka. Dan tahukah kamu, Bunda kehilangan kecantikannya bukan karena usia....


Nada janji Bun, Nada akan mengembalikan senyum Bunda lagi. Nada lagi hamil 2 bulan Bun. Cucu yang Bunda nantikan 2 tahun ini. Nada ga sabar menyampaikan kabar ini sama Bunda nanti di mobil.

"Ngapain kamu senyum-senyum sendiri disitu? Ayo antar Bunda ke kantor DPD Partai P," ujar Bunda membuyarkan lamunan.

Mataku mengerjap. Beranjak dan mengangkat Beauty Case lalu mencium punggung tangan Papa menandakan pamit.

"There is no cosmetic for beauty like happiness"


officehour- 15pm

Tuesday, 13 March 2012

only hope

                                             we don't have a perfect relationship,



but we do have a perfect love for each other.


 surabaya's mangrove, 10 march 2012

Friday, 9 March 2012

sesat #4 - wine

oke.
tenangkan dirimu, Nda.
no one knows about your relationship with him.
what am i supposed to do when emma told everything that happened last night.
marah?
nangis?
i couldn't...
aku cuma bisa diam. pura-pura excited. tapi hatiku sakit.

"...gila ya Nda, everyone knows he's married. Karna mabok aja bisa nyosor kmana-mana. Dan ini yang disosorin si Ajeng. Kayanya mang dia uda ada apa-apa sejak lama deh sama Ridho, si Ajeng kan ga into alcohol, ngapain juga kalo ga ada apa-apa juga mo disosorin..."

Aku cuma bisa tertawa kecil. Emma nyerocos. Ceritanya diulang-ulang. aku mendengarkan sekilas. selebihnya tentu saja kata-katanya hanya mengawang di pikiranku, ga sampai masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
Dua hari lalu was our boss' birthday. Dia mengajak kami, anak buahnya dinner, dilanjut nge-wine di sebuah wine house. Aku tak ikut kesana. I jut got my period, seluruh badanku rasanya sakit semua, dan aku memilih untuk tinggal dirumah saja.

aku dan Ridho.
klise.
Kami sekantor. Dia sudah menikah. Aku tahu hubungan kami terlarang, jadi kami diam-diam saja.
Mengingat aku orang yang cukup introvert, aku tak pernah membicarakan hubungan ini dengan siapapun, termasuk dengan Emma, partner in crime di kantor. Dia tak pernah suka dengan apapun yang berbau perselingkuhan. Ayahnya seorang pelaku poligami. Istrinya sudah 2, minus ibunya yang ga kuat di poligami setelah setahun pernikahan ayahnya dengan istri kedua.

I'm officially fucked up. Ga bisa ngomong apa yang ingin aku omongin itu menjengkelkan.
Dan Ajeng si manusia paling ringan tangan dan ramah di kantorku yang lagi diomongin sekarang itu jadi totally bitch in my mind. Tampang malaikat hati iblis.
Huh. Semua ingatan tentang kebaikannya padaku terhapus.
Wait...why should i mad to her?
Why not to him?
Menjadi wanita simpanan itu sudah cukup menyakitkan. Eh masih ada juga bumbu-bumbu make out dengan orang lain?. It's sucks. Ridho pernah ngomong, kalo ga akan ada wanita lain selain Dhea, istrinya dan aku, Linda, his second. Sadar ataupun mabuk, cheating with somebody else is not allowed.

"Enak mana dho, makeout sama aku atau Ajeng?," aku bertanya padanya tiga hari setelah kejadian tersebut di wine house tempat kejadian perkara. Aku sengaja mengajaknya kesitu lagi, agar lebih mendramatisir.

Ridho terkejut. Mungkin dia ga menyangka bahwa aku akan mengetahui hal itu. Oh iya, aku lupa mencantumkan bahwa Emma memang bilang mereka berdua- Ajeng dan Ridho- menyingkir dari anak-anak untuk "mojok". Bukan di tempat yang terpojok sih, hanya di kursi yang agak jauh dari yang lain.
"Kamu...tahu dari mana?," Sepertinya dia sudah mampu mengendalikan emosinya. Wajahnya tidak menampakkan rasa terkejut yang tadi. Datar.
"Banyak anak-anak disana. Aku ga perlu menyebut siapa yang melihatmu. Mungkin saking Hot-nya kamu jadi ga sadar banyak yang memperhatikan," Wajahku memerah. Antara menahan marah dan ingin menangis. 
Tangan Ridho meraih pundakku. Memijit lembut.
"Buat apa aku melakukan itu?. Kami hanya ngobrol. Menjauhnya ya karena berisik banget. Aku bahkan ga menyentuhnya sedikitpun, apalagi make out." Nada suaranya masih datar. Innocent. tapi dewasa. 
Sekali lagi ini menyebalkan. Aku ga punya bukti. Emma ga punya bukti. Tapi aku terlanjur cemburu. 
Cemburu yang bagaimana aku juga bingung. Dia kan bukan benar-benar milikku. Ah...

"Aku cuma bisa bilang ini Dho...cukuplah berselingkuh denganku. Kalo aku tahu lagi dan punya bukti kamu masih ingin main-main dengan wanita lain, aku akan bongkar perselingkuhanmu pada Dhea.Cheers....." kataku sambil mengangkat segelas wine putih lalu menyesapnya perlahan.

Ridho tak ikut mengangkat gelasnya. Dia bergeming menatapku.

Repotnya selingkuh dengan pria muda beristri ini. Belum puas saja dia. Makanya jangan menikah muda. pikirku.