Showing posts with label (based on) true story. Show all posts
Showing posts with label (based on) true story. Show all posts

Monday, 30 May 2016

A Place Called Home

Malam minggu aku habiskan dengan menonton film “Supernova : The Knight, The Princess and Shooting Star” sendiri di kamar, dimana saya ga akan menceritakan resensi film tersebut disini, tapi kamu bisa baca di blog ini. Ada satu hal yang aku ingat betul mengapa dari sekian petualanganku, aku tetap kembali ke "rumah". 

Sederhananya, Ferre mencintai dan dicintai Rana yang telah bersuamikan Arwin. Arwin bukan sosok yang tepat untuk diduakan, tapi nyatanya siapa yang bisa mengelak dari cinta. Hingga akhir waktu, Arwin mengetahui hubungan gelap mereka dan memilih untuk melepaskan Rana pada Ferre. Rana luluh dengan sikap tulus Arwin dan memilih untuk memutuskan hubungannya dengan Ferre.

Yang tidak aku ungkapkan, begitu pula dia...kami sama dengan pasangan-pasangan lain yang tidak sempurna. Bahwa sebelum kami menikah, ada satu pria yang berharap bisa menikah denganku jika aku tidak segera dilamar oleh kekasih kala itu.

Si pria dewasa, cukup tampan, mapan dan sholeh, yang seharusnya ga perlu berpikir dua kali untuk meninggalkan kekasih yang penuh tidak kepastian dan memilihnya.

Di suatu malam di sebuah tempat, dengan hati besarnya, kekasih  memutuskan hubungan kami agar aku bisa bersama pria itu. Dia tidak menunjukkan emosi, dia tidak menunjukkan amarah, dia tetap mengantarku pulang  sampai di depan rumah.

Si pria tentu kegirangan, dan mulai menyiapkan serangkaian acara kencan untuk lebih mendekatkan kami berdua, tetapi aku menolak. Aku memilih untuk diam dirumah, memikirkan segalanya, berdoa untuk siapa yang baik untukku. Dan tepat seminggu setelah itu,  aku memilih untuk kembali pada kekasih ketimbang memulai hubungan baru dengan si Pria.

Andaikata, pada malam itu kekasih marah besar dan mengata-ngatai aku dengan kalimat kasar, mungkin aku akan tidak berpikir ulang untuk kembali padanya. Sikap seperti itu sukses membuatku merasa bersalah beberapa kali lipat dan berniat memperbaiki semua dari awal. Dan dia dengan hati besarnya itu, menerimaku kembali dan akhirnya melamar.


Jika saya update status di sosial media berlokasi di “A Place Called Home”, it isn’t about the house --my parent-in-law’s house...but that’s HIM. 

He’s my home.

Friday, 19 December 2014

Kita Pasti Bisa

Setiap tahun aku menyelipkan 1 resolusi yang sama. Menikah.
Setiap tiup lilin di hari ulangtahunku, kuhembuskan doa yang sama. Menikah.
Setiap tahun setelah usiaku menginjak tahun yang ke 25.
Bukan berarti menikah adalah satu-satunya tujuan hidupku, bukan satu-satunya pencapaian yang ingin aku raih.

Aku tak berhenti mencari, meski begitu dia setia membantuku menemukan jalan kembali padanya. Ini yang membuatku bertahan mencintainya, dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Dan ya, hingga pada saat kami duduk berhadapan didampingi kedua orangtua kami pada tanggal 25 Mei 2014 lalu, aku bersyukur hari itu akhirnya datang. 

Kalau kamu membaca tulisanku sebelumnya, dan bertanya-tanya bagaimana akhirnya orangtua kekasihku bisa menerimaku... aku beritahu sesuatu.

Jodoh tidak akan menjadi "jodoh" kalau tidak diperjuangkan. Dan bagaimana caranya agar kamu bisa diperjuangkan?. Sejujurnya, aku bukan tipe perempuan yang layak diperjuangkan. Aku keras kepala, sok mandiri, kekanak-kanakan, mudah jatuh cinta, tidak setia...paling tidak itu yang mereka katakan tentang aku. But he stays. Dan dia menepati janjinya untuk berjuang membantuku meluluhkan hati kedua orangtuanya di tahun dimana aku sudah menyerah dan tak lagi menyelipkan doa "menikah" di tahun 2014 ini.

Suatu hari, dia berkata, "Sayang, aku ingin mengajakmu kerumahku. Tapi kalau bisa kamu pakai kerudung ya."
Aku kira pertemuan ini akan menjadi pertemuan yang biasa saja. Aku akan berhadapan kembali dengan Ibu dan Bapak, tapi aku salah. Ibu memanggil menantu, beberapa saudara dan keponakannya untuk dikenalkan padaku. Suasana ramai dan cair, tidak setegang aku pertama kali menginjakkan kakiku dirumahnya. Bapak pun mulai ramah menyapaku. 1 Hal yang aku ingat dia katakan, "Ya sudah, kalau memang kalian berjodoh, Bapak dan Ibu merestui saja."

Alhamdulillah. 

Dan kami masih menjalani ujian demi ujian menjelang hari lamaran hingga pernikahan. Kata orang, kalau persiapan pernikahan lancar berarti benar-benar berjodoh. Dengan segala keruwetan, aku kembali pesimis. Mungkinkah kami cuma memaksakan kehendak saja? Dan apakah memang dia terbaik untukku, aku terbaik untuknya?. 

Hey, aku berkata pada diriku sendiri. Bukankah ini yang aku inginkan. Menua bersamanya. Tolong jangan bandingkan dengan siapapun karena mereka tidak berjuang sekeras ini padaku. Berdoa saja, semua akan membaik.

Terima kasih atas semua doa baik yang tertuju untuk kami, dia mengucapkan janji pernikahan dalam bahasa Arab dengan sangat lancar, meski dengan telapak tangan basah dan muka tegang. 

Terima kasih pak Penghulu karena dengan guyonan yang Ia lontarkan, suasana Ijab kabul pun ga kaku sama sekali. He he he

Terima kasih keluarga. Terutama Mama, perjuangan mama luar biasa. Ga akan mampu aku untuk membalasnya. Adik perempuanku satu-satunya, buat semua nasehat dewasanya, dukungan dan kadonya...aku titipkan salah satu milikku yang berharga padamu, Luna.

Terima kasih kalian, yang pernah mampir ditengah-tengah hubungan kami. Kalian membuatku semakin yakin bahwa aku akan tetap memilih dia.

Terima kasih lelaki yang kini sudah menjadi mantan pacar. Hidup kita ga akan mudah, semoga kesabaranmu menjadi berlipat dalam mengimami aku. Kita pasti bisa, dear...

Terima kasih ya Allah, hadiah-Mu sangat indah. Aku menikahi dia, dan kini juga memperoleh kasih sayang dari orangtuanya.

(Terima kasih atas mitos "usapin jari berminyakmu yang abis makan gorengan di kaki, dijamin disayang mertua" dan aku melakukannya :D)

dan terakhir, YA sekarang aku mengenakan kerudung. Semoga istiqomah :)

Aamiin


Tuesday, 27 August 2013

Kita Bisa

Menjalani sesuatu yang terus-terusan terkadang buatmu bosan. Ya kan?

Bukan tentang Mencintainya. Ini adalah cerita tentang penolakan keluarga dari pihak pasangan.
Aku, satu dari antara banyaknya jiwa yang pernah atau sedang mengalami, hal ini bukanlah pertama kalinya terjadi dalam hidupku. Sebenarnya aku sudah bosan ditolak. Tapi inilah aku.

Sebelum jatuh cinta, aku selalu siap menerima resiko. Aku juga siap memberi sebanyak-banyaknya cinta yang bisa aku beri. Dan aku siap jatuh kemudian bangun lagi karena disakiti. Tapi yang ini berbeda. Aku menua, aku tak lagi sama. Aku ingin mencintai dan dicintai olehnya lebih lama lagi dan selamanya. Aku ingin terbangun dipelukannya, mencium pipi dan mengucapkan selamat pagi, mencium punggung tangannya setiap hendak beraktivitas, menyiapkan kopi, snack pagi hingga makan malam, memijit dan mengusap-usap kepalanya sebelum tidur dan kemudian tertidur di pelukannya kembali.

Tidak pernah ada kata terlambat, meski begitu, aku merasa terlambat menjalani satu hal yang sebenarnya aku yakini sejak lama tapi aku takut untuk melangkah. 

Kekasihku muslim, dan aku kristiani. Aku ber-syahadat baru setelah 3 tahun lebih kami berhubungan.

Waktu itu, tanggal 28 Maret 2013, lewat seorang teman Mama aku dikenalkan oleh seorang Ustadz. Keesokan harinya, aku langsung memberanikan diri untuk berangkat menuju pondok pesantrennya di sekitar Jl Sememi menuju ke Gresik. Ditemani oleh Mama dan temannya, aku tidak mengatakan padanya bahwa aku hendak berikrar, aku jujur aku juga tidak ingin dianggap hanya "demi dia".

Kenyataannya, proses Ikrar yang cepat tanpa adanya pelatihan kini membuatku kesusahan. Surat memang sudah ditangan, namaku mungkin sudah tercatat sebagai Hamba-NYA. Tapi hanya lewat buku dan mp3 aku mendengar dan belajar. Doa-doa tertentu pun aku belum hafal. Aku belum berani mengakui pada dunia, kini aku beragama Islam, karena aku tahu aku belum sepenuhnya menjadi umat yang sempurna. 

Aku menutupi dari teman-teman, baik yang diluar maupun didalam kantor. Keluargaku sendiri sangat menghargai adanya perbedaan, jadi mereka mendukung asalkan aku benar-benar serius menjalaninya.
Beberapa hari lalu, kekasih mengajakku kerumahnya. Ya, setelah hampir 4 tahun. Sebenarnya mereka orangtuanya sudah tahu bahwa anaknya "berteman" denganku. Ternyata, sampai aku bertemu mereka lagi, aku masih diharapkan hanya berteman saja dengan anaknya.

Islam memberi sebuah "beban" kepada seorang lelaki yang menjadi suami dan ayah. Dosa istri dan anak-anaknya lah yang akan Ia tanggung. Surga pun akan Ia miliki jika istri dan anak-anaknya taat padanya. Kebetulan Bapaknya memiliki 3 anak, lelaki semua (dan aku mencintai salah satu anaknya), anak-anak lelakinya itu harus menjadi teladan bagi orang tua dan istri serta keluarganya. Sebagai seseorang yang baru belajar, aku paham. 

"Bapak ini termasuk Tokoh Masyarakat. Gini-gini Bapak punya 200 Santri disini. Apa kata orang-orang kalau tau anaknya memilih perempuan yang berbeda keyakinan"

"Aris usianya masih 25. Kakak-kakaknya menikah diusia 29. Bapak juga menikah diusia 29."

"Iya memang mualaf. Tapi nanti entah anakmu, cucumu, atau keturunanmu yang selanjutnya bisa saja kembali ke jalan itu."

"Kalau KTP belum ganti dan belum bisa sholat, ya belum Islam."

"Saya ini istilahnya sudah menunggu waktu. Sudah tua. Saya juga ga peduli anak saya menikah dengan orang yang cantik, jelek, kaya, miskin yang penting keyakinannya sama."

"Bapak ga apa-apa kalo kalian berteman. Sampai kapanpun berteman. Ga apa-apa. Jadi tolong ya dipikir yang matang-matang."

Aku sudah tahu kemana arah pembicaraan ini. Aku mualaf atau tidak, aku sudah dianggap tidak memiliki darah Islam dari sejak awal karena para leluhurku. Ingin rasanya aku ceritakan semua, tapi selama itu aku cuma bisa tersengguk-sengguk menahan airmata dan ingus tumpah membasahi seluruh wajahku.

Aku anak perempuan pertama Eko dan Etty. Eko anak pertama dari pasangan Bapak dan Ibu Samingoen Wirjoatmodjo, Etty anak pertama dari pasangan Bapak dan Ibu Benny Tedja Surya. Mungkin karena mereka berdua berinisial E, mereka memutuskan anak-anaknya berinisial F. Seiring dengan usiaku yang bertambah, aku mengetahui bahwa Oma dulunya Islam, karena kemudian menikah dengan Opa, beliau mengikuti keyakinan Opa. Saat Eko dan Etty menikah pun melalui gereja dan menjalani akad menurut Islam juga. 

Memang perbedaan tak selamanya indah. Mungkin suatu kebahagiaan ada masanya. Dan rumah tangga mereka pun berakhir tepat diusiaku yang ke 11. Dadaku masih rata, mens-pun aku belum. Aku tumbuh dengan memilih sendiri miniset yang sampai SMP pun masih kedodoran, memasang pembalut sampai berlapis-lapis karena saking takutnya menembus rok sekolah. Betapa ga enaknya jadi perempuan yang sudah harus ditinggal orangtua diusia segitu. Aku tidak memiliki kekuatan mempersatukan mereka kembali.

Sebagai anak yang merasa kurang perhatian dan tidak memiliki kemampuan membahagiakan orangtua di kala muda, aku menginginkan calon mertua yang sangat sayang dan akan aku sayangi sepenuh hati seperti orangtuaku sendiri. Tapi ternyata hidupku belum juga dimudahkan. Atau mungkin akunya saja yang mempersulit. Karena bebereapa waktu lalu aku mengetahui, ternyata Etty bukan anak pertama dari Bapak Benny, tapi dari Bapak Bambang, orangtua kandung Etty yang wafat dalam tugas sebagai Angkatan Udara. Dan Beliau Islam. Etty pun menuruti untuk berpindah agama karena Opa, tapi di masa tuanya Ia kembali pada Allah. Jadi sebenarnya aku ini ga ada darah kristiani?. Aku memang dibaptis sejak bayi, tapi darah tetaplah darah. Aku pun tidak membenci apapun yang diajarkan, malah dari situ aku kagum atas toleransi antar umat beragama. Dan jika kemudian aku kembali berjalan di jalan Allah, mungkin memang karena dari situlah aku diciptakan.

Aku merasa akan dianggap mencemarkan keturunan Bapak jika kekasihku nekat menikah denganku. Karena Bapak mengucapkan apa saja yang pada intinya tidak membolehkan kami bersama. Kata-kata itu terngiang-ngiang di kepalaku dan kapan saja mampu menumpahkan airmataku kembali.

Tapi aku ingat dia, kekasihku. Tak hentinya dia membelaku dihadapan orangtuanya sampai aku harus menepuk pelan pahanya untuk membiarkan Bapak menyelesaikan kata-katanya. Dan kemarin, untuk kesekian kali aku membuatnya menangis, aku tahu kali ini tangisannya yang paling memilukan buatku. Bukan hanya karena aku melihatnya langsung, dan bukan karena aku telah mengkhianati dan menyakitinya. Aku adalah perempuan pertama dalam hidupnya yang berbeda semua-muanya yang bisa membuat dia berkata, "Jangan tinggalin aku, hunz. Kita pasti bisa jalani ini. Aku sayang kamu..." 

Kami berpelukan dan menangis bersama. Dia lelaki tegar dan sabarnya luar biasa terhadap aku. Dan kali ini dia tidak bisa menyembunyikan emosinya. Suasana mendadak sendu dan menyayat hati. Yang terdengar cuma isakan kami dan sebutan "YA ALLAH" yang berkali-kali terucap dari mulutnya. Dalam tangis aku berdoa, "Ya Allah, ampuni aku karena telah meminta ini padaMU. Jangan biarkan siapapun memisahkan kami kecuali oleh Engkau ya Allah."

Segala tamparan dan cobaan tak lain dan tak bukan adalah untuk menguatkan kami. Ini belum seberapa dengan apa yang mungkin akan kami hadapi di hari lain. 

"Kamu yakin sanggup jalani rumah tangga sama anak saya nantinya," tanya Ibu.
"InsyaAllah Sanggup Bu." jawab saya percaya diri.


officehour with tears 27/8/13

Tuesday, 30 April 2013

satu dari dua pilihan

“If you love two people, pick the second person. Because if you love the first person truly you wouldn’t have fallen for the second”

I disagree.

Jangan memilih orang yang kedua. Karena akan selalu ada orang kedua lagi dalam hidup kita. Bila kita terus mencari yang terbaik, tidak akan ada habisnya. Diatas langit ada langit.

Ingat dan pikirkan, apa yang buatmu jatuh cinta padanya.

Apa yang membuatmu bangga dicintainya.

Siapa yang selalu ada di susahmu.

Jangan berhenti mencintai orang pertama.

Aku berhenti di kamu, orang keduaku.

Sekali dalam seumur hidupku, aku memilih untuk mencintai dia orang kedua.

Tapi Tuhan tak berhenti padamu. Dia mengirim ujian, satu persatu, datang dan pergi.

Tuhan mencoba menggoyahkan aku. Menggoyahkan dia.

Berkali kali kami lolos, berkali kali kami jatuh.

Satu yang aku sadari kenapa aku tidak menyesali memilih bersamanya.

Hanya dia yang sangat yakin bisa membawaku kembali mencintainya. Ketika orang lain memilih pasrah dan pergi, dia gigih.

Aku mencinta sekaligus membenci dia berkali kali sejak pandangan pertama kali.

Dan semoga seterusnya

Itu cuma proses

“Never leave the person you Love for the person you Like; because the person you Like will leave you for the person they Love”

Wednesday, 24 April 2013

kepada kamu


Teruntuk kamu yang mengetuk mata hati di pertemuan pertama kalinya,

Hai. Apa kabar?
Bagaimana tidurmu semalam? Mimpikah kau tentang aku?
Setelah malam sebelumnya kau mengeluh karena mengantuk, sementara aku yang masih berjaga ini entah mau berbuat apa.
Lalu dengan semena-menanya aku membicarakan sesuatu yang membuat matamu menjadi terbuka seutuhnya.
Kamu marah. Merasa terganggu karena tidak diijinkan tidur olehku.
Padahal kau tahu?
Aku hanya enggan menutup mataku cuma agar bisa menikmati setiap detik bersamamu.
Aku tak ingin membiarkan waktu merampas kedekatan kita berdua.
Aku tak mau membuang pandangan darimu dan tergantikan oleh lelapnya malam berganti pagi.
Kamu, yang mampu  mengetuk mata hatiku di pertemuan pertama kita.

Kepada kamu pemuas rinduku,

Sampai dimana kita?
Seribu hari lebih lamanya, tak terhitung sudah pertemuan yang kita biasa lakukan.
Kamu bilang selalu merindukanku. Aku juga begitu.
Walau bertemu lalu cuma bertukar udara tanpa kata, aku puas.
Bagaimana menurutmu?
Mungkin tidak sama sepertiku.
Karena kamu jadi lupa rasanya rindu. Kamu lupa rasanya merindukan aku.
Tidak ingat bahwa rindu berarti kata manis, pelukan dan kecupan.

Teruntuk kamu teman bicara dan pendengarku satu satunya,

Ada pepatah menyatakan “ Jika dirimu memiliki masalah dengan pasanganmu, janganlah pernah membicarakan hal itu dengan lawan jenismu”
Tapi entah kenapa, percakapan serius kita tak jarang berakhir dengan luka .
Saling membenarkan diri dan menyalahkan yang lain.
Saling mengakui sebagai pihak yang mengalah.
Saling mengucap maaf yang tanpa kesungguhan.
Kamu sungguh lelah ya mendengarku?
Kamu sudah capai berbicara denganku?
Andai kamu menyadari, bila hanya padamu aku boleh meracau.
Karena kamu pasti terluka jika aku mengumbar.
Kembali lagi padamu sayang,  heningku tercipta.

Kepada kamu cinta yang kuingin untuk terakhir kalinya,

Kamu selalu menertawakan khayalan perhelatan besar kita nanti.
Makanan khas, jajanan tradisional, lampu-lampu bulat berwarna, kereta kelinci, balon-balon gas, pengamen jalanan,  souvenir celengan.
Aku menyanyi, kamu yang main gitar.
Aku ingin beda. Kamu ingin sewajarnya.
Tak peduli betapa dalamnya paru-paru ini menghela nafas,
Kamu tidak boleh melepas aku.


send?
tidak...
delete all :)


Thursday, 27 September 2012

e KTP

Beberapa bulan lalu pemerintah menggenjot para pekerja kemasyarakatan sampek lembur berhari-hari demi melayani beratus-ratus penduduk merekam sidik jari, scan kornea mata, foto dengan latar biru untuk yang lahir di tahun genap dan merah untuk yang lahir di tahun ganjil, lalu tak lupa tanda tangan sebagai identitas diri. Bola mata coklat saya tak luput dari gurauan sang perekam, "Mbak, pake softlens ya, tolong dilepas aja." 

Yup, Electronic KTP atau kerennya e-KTP dengan slogan "Satu Penduduk Satu Identitas" akan mengurangi kemungkinan adanya identitas palsu atau kepemilikan kartu identitas yang ganda di kala tinggal di kota lain. Konon, meski secara fisik biasa saja tetapi e-KTP mengandung chip memori data diri kita.

Di Kartu Tanda Penduduk saya yang lama tertulis, bahwa masa berlaku kartu hingga 25-10-2012. Saya nanya kekasih, "Kok kampungku belom juga ada panggilan ambil e-KTP sih, tar keburu KTP ku abis. Masa bikin lagi dulu yang model lama." Kekasih menyarankan, "Tar deket waktunya, tanyain aja ke kecamatan."

Ga sampai seminggu, pertanyaan saya terjawab. Oma dengan semangat menyampaikan ada surat undangan pengambilan e-KTP sehari sebelumnya. Karena keluarga dirumah ga seantusias saya yang ingin segera punya KTP baru, sepulang kantor langsung mampir kantor kecamatan Gubeng. Dari jauh sudah terlihat beberapa orang sedang menunggu gilirannya untuk dipanggil. Saya bertemu dengan salah satu tetangga yang kalau siang buka warung tepat disebelah rumah saya dan dia menyarankan saya untuk mengambil nomor antrian dulu. Saya masuk dan mendapatkan nomor 619, buset dah. Sekarang masih nomor 480. Pasrah, saya mencari tempat untuk duduk sambil menengok-nengok kalau saja ada tetangga yang saya kenal. Ada sih, tapi lalu saya cuma senyum ga tau namanya. Saya pasang headset untuk dengerin mp3 seperti yang biasa saya lakukan sambil meng-update status twitter.

Bilang saya jahat dan terlalu cuek dengan pasang headset seperti ga berniat bersosialisasi. Tapi orang baik itu selalu saja ada. 

Kebaikan pertama. Ada 1 anak tetangga yang yatim piatu, tiba tiba nyamperin saya dan nanya "Mbak urutan nomor berapa?" Kaget, saya nanya "urutan nomor sekarang atau yang punyaku?". Dia jawab yang punyaku. Setelah itu dia memberi nomor antrian miliknya yang lebih cepat 100 angka dari milikku. Dia bilang dapat nomor dobel, sementara dia sudah dapetin e-KTPnya. God bless you, hati saya berkata.

Kebaikan kedua. Setelah si anak pergi saya disapa oleh teman SMP dan suaminya yang baru saja datang. Ngobrol ngobrol, mata si suami tertuju pada pintu kantor kecamatan, bahwa contoh KTP yang lama harus di fotokopi zooming agar dapat di legalisir nantinya untuk keperluan penting seperti urusan dengan Bank atau instansi lainnya. Kami menengok masing masing fotokopi dan berpendapat terlalu kecil. Maka kami pergi ke fotokopi terdekat dan kemudian Rp. 800,- biaya fotokopi saya digratiskan sama si teman. God bless you both, kata saya lagi.

Akhirnya, selesai sudah antrian saya. Wohooo, setelah bertahun-tahun bekerja dan punya KTP baru sekali ini tertulis Karyawan Swasta di Pekerjaan, dan O di golongan darah. Satu lagi, baru kali ini foto KTP saya terlihat cantik hahahah *kesian. Nomor Identitas pun berubah. Yang belum berubah adalah Status Perkawinan nih. Masih saja Belum Kawin. LOL

Saya berpamit-pamit sama teman dan para tetangga yang masih mengantri. Jalan kaki menuju rumah sambil tersenyum. I'm so Blessed. Bertemu dengan orang-orang yang baik. Saya pun pasti juga akan melakukan hal yang sama bila berada di posisi mereka. Baiklah, mampir ke warung nasi padang sepertinya ide yang bagus untuk menyenangkan diri sendiri juga. Hehehe.

Friday, 13 July 2012

dream job

Bahagia itu memang Sederhana.

Hanya karena tulisan tentang My dream job would be di publish di blog yang bisa diisi oleh siapa saja -bikinan Rahne Putri, pemilik blog sekaligus penulis Sadgenic- aku bahagia :)

Pekerjaan sederhana yang tulus aku kerjakan dengan senang hati, baca disini

Buat kamu yang juga ingin "pamer" pekerjaan impianmu yang sederhana di dunia paralel, isi disini kawans babi :)

Selamat bermimpi. Dan Bahagia :)

Wednesday, 27 June 2012

selalu ada alasan

Biar dikata, jika seseorang mengetahui kenapa ia mencintai pasangannya itu berarti bukan cinta-- karena cinta itu tidak memiliki alasan -- aku bersikukuh tahu kenapa aku bisa mencintai kamu dan tetap merasakan cinta sampai saat ini, juga merupakan kenapa aku mempertahankan kamu. Cinta yang bukan sekedar rutinitas tentunya. 

1.
Aku mencintaimu karena kita memiliki kesukaan yang sama. Mengulum es batu tiap kali habis minuman yang kita pesan di warung-warung favorit yang itu itu saja kita datangi. Juga menghirup udara di kota lain sekali sebulan.  

2.
Aku mencintaimu karena kamu posesif. Selalu bertanya sedang apa, dimana dan dengan siapa aku berada. Mungkin buat kalian aneh tapi aku selalu merasa terlindungi dengan pertanyaan itu.

3.
Aku mencintaimu karena kamu pandai mengatur pengeluaran meski lebih sering aku sebut perhitungan, yang menahan lapar mataku sebagai wanita tulen yang juga hobi belanja secara impulsif.

4.
Aku mencintaimu karena kamu sering membuatku jengkel, marah, dan ingin meninggalkan kamu. No offense, aku benci ditalak sebulan sekali tapi kemudian karena itulah make up sex tercipta.

5.
Aku mencintaimu karena kamu mau mengganti posisimu berdiri dan menggandeng tanganku saat hendak menyeberang, sependek dan sejauh apapun jaraknya.

6.
Aku mencintaimu karena tanganku menjangkau tak tersisa di perut cembungmu saat memboncengku. Empuk, seperti memeluk boneka babi raksasa kesayanganku saat tidur.

7.
Aku mencintaimu karena kamu yang bilang tidak romantis, tidak bisa merayu apalagi berkata-kata indah, namun kamu mampu menulis surat cinta dengan tangan yang membuatku berkaca kaca saat membacanya.

8.
Aku mencintaimu karena kamu mengajarkan arti bersyukur dan menemaniku mengaplikasikan pada hidup. Iya, aku bersyukur memiliki kamu.

9.
Aku mencintaimu karena secara fisik kamu ganteng dengan wajah mirip dono, putih kayak sapi, wangi aigner blu motion.

10.
Aku mencintaimu karena kamu belum berhenti mencintaiku yang tak sempurna ini.

Jadi, aku percaya kalian pun memiliki alasan mengapa mencintainya. Karena itulah yang membuat kalian tahu, bahwa memang dia lah orang yang kalian inginkan. Bukan begitu? 

Wednesday, 20 June 2012

penguntit

Satu hari.

Seorang lelaki, tiba-tiba berdiri disampingku entah kapan dia lewat dan berhenti lalu bertanya, "Kamu mau saya antar?"

Aku yang memang sedang berdiri galau di balik gapura ujung gang karena angkot tak kunjung lewat akhirnya menoleh ke arahnya. Orang ini. Aku (hanya) mengetahui sosok dan namanya karena dia adalah salah satu tetangga di kampung. Tapi rumahnya yang mana, keluarganya bagaimana, teman-temannya siapa, aku tak tahu. Aku memang jarang bergaul dengan tetangga.

Oh iya, yang aku tau juga tentang orang ini, dia pernah menebak warna bra aku dengan benar. Juga "mengintip" kepribadianku padahal kami ngobrol aja ga pernah. Semuanya dia ungkapkan pada seseorang yang kini sudah jadi mantan. Tau darimana?? kuatir aku kalo dia punya ilmu gaib :/


Aku menjawab, "Tidak terimakasih."

Walau galau, aku tidak mau diantar oleh orang asing. Tetanggaku sekalipun.

Setelah tawaran yang bernada memaksa kesekian kali terucap dari mulutnya, angkot lewat. Ciao, aku meninggalkan dia sendiri.

Lain hari.

Beberapa waktu lalu, aku sempat tahu dia ada di gerbang depan kantorku berada. Aku berkesimpulan, bahwa pasti dia sempat mengikuti angkot yang kunaiki.

Hari ini, aku dalam posisi prima berangkat kantor sebelum akhirnya aku melihat dia duduk di bawah pohon beberapa meter sebelum aku. Dengan percaya dirinya dia mencegat semua angkot bercat kuning kecoklatan dan menyerahkan beberapa lembar seribuan, lalu berkata dengan gerak bibir yang sulit kuterjemahkan.

Sebagai informasi, angkot itu bernama Lyn P. Ga banyak yang tahu, bahwa Lyn P terbagi menjadi 5 kelompok, yang masing-masing bergilir melewati trayek yang sudah ditentukan. Terminalnya antara di Joyoboyo-Petojo-Kenjeran. Nah, yang aku naiki harus yang ada papan bertulis Kenjeran agar sampai pada tujuan. Dia gak paham dengan hal itu, entah berapa duit yang dia habiskan.

Kira-kira kamu tahu apa yang dia sampaikan ke pak supir?.
Ada dua kemungkinan. Satu, dia berniat membayariku ongkos angkot. Dua, dia tidak mengijinkan si pak supir berhenti saat aku mencegatnya, dan sebagai kompensasi kehilangan penumpang, dia membayar terlebih dahulu.

Kalau membaca dari awal aku menulis, apakah pikiranmu sama denganku??

Aku tak kehabisan akal. Walau harus oper angkot 2 kali, aku rela. Asal dia tidak berhasil membuatku terlambat sampai kantor, karena percuma saja aku tidak akan menyerah lalu menerima begitu saja untuk diantar olehnya.

Hari ini.

Dia belum menyerah. Oke, kalau persoalan ini saya ceritakan ke orang-orang, bukannya membelaku mereka malah menjadikan hal itu sebagai bahan guyonan.

"Itu karena dia suka sama kamu. Naksir...Hahahah"

Dulu aku pernah berangan-angan, punya pengagum seru kali ya. Dia rela menghadiahi perhatian, menemani kemana-mana... tapi dengan si dia ini, sumpah aku takut. Alih-alih mengatakan apa yang dia inginkan sebenarnya, dia lebih suka memata-matai aku. Kadang terpergok sedang mondar-mandir di depan rumah. Pengagum yang ini mimpi buruk, saudara. Lebih pantas dikategorikan stalker daripada secret admirer. Bahkan dia ga takut buat menoleh saat aku sedang bersama kekasih.

Kekasih...mana kekasih??. Dia cuma memonitor dari jauh. Aku berharap dia melakukan yang lebih suatu saat nanti. Biar dia tau rasa.

Setelah sekian minggu, aku memberanikan diri memberhentikan angkot di belakang motornya berhenti. Aku berjalan mantap menuju arahnya. Dia sesekali mengintip dari kaca spion. Sebelum dia kabur, aku berhasil berdiri di sebelahnya dan berteriak,

"MAKSUDMU APA NGIKUTIN ORANG KAYAK GITU!!!???. SEKALI LAGI AKU TAU KAMU NGIKUTIN AKU PANGGILIN POLISI!!!!,"

Kaca helm ditutup. Dia menjawab, "Gada maksud apa-apa,"
Lalu dia memutar motornya ke kanan.

Motor berplat No L 5910 F.

Nafas ku menderu. Mungkin wajah ini uda berubah jadi wajah babi hutan. Biasanya kalau lagi marah hidungku membesar dan mendengus-dengus. Ga peduli dengan tatapan aneh orang-orang yang lewat dan mungkin mengira kami pasangan yang sedang bertengkar. Uuh, aku belum sempat kasih bogem mentah ke dia.

Mang brani?, gini aja uda deg-degan sampe ga bisa nafas. Saking emosinya.

Awas aja kalo aku liat dia lagi besok-besok.

Tuesday, 19 June 2012

Aku wanita Kartini, bukan berarti aku tak patuh pada suami

Jangan sampai air mata melunturi eyeliner dan bedak di mata dan pipiku. Aku tak sabar segera menyelesaikan pekerjaan ini, pulang lalu bebas memendamkan mukaku di atas bantal agar suara sesenggukan tak terdengar oleh siapapun dan tentu saja, hemat tisu. Pertengkaran terakhir sukses membuat aku tak dapat tidur semalaman.

Kamu tahu, bahwa ketika aku tidak dapat mengkompromikan lagi mana yang harus kupilih, impian atau cinta, aku menyerah. Aku menyerah pada dua-duanya. Aku tidak mampu memilih salah satunya.

Impianku, aku berharap kamu ada disaat aku meraihnya. 

Cinta, yang itu kamu, adalah inspirasiku untuk bisa menjadi "seseorang".

Tuesday, 5 June 2012

totalitas

Beberapa tahun lalu, tidak terpikir oleh saya untuk memamerkan blog "nyampah" ini pada dunia. Padahal awalnya, masang foto sendiri aja saya segan. Jujur lagi, saya merahasiakan "tempat sampah" ini dari siapapun. Karena cuma disinilah saya bisa jadi diri sendiri. Jurnal yang terbuka untuk umum, yang tak tahu siapa penulisnya.

Beberapa minggu lalu, tiba-tiba terpikir oleh saya untuk memamerkan blog "nyampah" ini pada dunia. Semenjak saya suka shared it via twitter, saya menemukan para pecinta blog yang baru...teman teman baru yang kemudian saling mengunjungi blog :). Lalu, totalitas saya mendesak ingin keluar. Saya berkolaborasi dengan Valenriz Cloth bikin kaos yang untuk sementara ini, saya aja yang bakal pake :)) (sapa tau entar ada yang pengen, bisa pesen lewat saya lalu di re-design-in lagi)




design mentah #babibercerita
Lagi lagi saya kepedean, tapi saya ga peduli :D. Ini kepuasan batin tersendiri punya kaos dari blog sendiri. Berhubung sama si produsen kaos nama blog saya dibawa-bawa di wall nya, kemungkinan besar akan ada  teman si babi yang bakal bertamu... 

Saya ucapkan SELAMAT DATANG di kandang babi :). Tau kan seperti apa kandang babi, ya gitu itu deh isinya, manis, asem, sdikit "jorok" tapi kebanyakan paitnya. Semoga ga nyesel buat bertamu lagi di lain hari. Semoga saya ga buat kecewa dengan minimnya postingan kata kata yang terhidang. Sejak hanya nyampahlah keahlian saya, besok besok saya bakal lebih rajin lagi nulisnya. Terutama buat #SESAT nya, saya berobsesi punya buku kumpulan cerpen selingkuh itu (ga) indah. Kalo ada yang pengen sharing kemudian ga keberatan saya bikinkan cerita, monggo ;)

salam BABIKKKK :*

Tuesday, 8 May 2012

mancing


Udah lama ga jalanin hobi yg satu ini, bikin aku makin kagok pegang pancing. Palagi kemaren-kemaren tuh partnernya beda, lebih emosian, lebih cerewet..ternyata baru ku sadari..like father like daughter. Pantes aja, ternyata sifat jelekku menurun dari beliau, hihi. Salah ngelempar kail diomelin, pas dapet diomelin juga, jadi serba salah.


"Tariiik...leh ayo tariken seng kuat, baru dikerek. Lek ngga ngono yo iwakmu mblayu"

(Tarik, ayo segera ditarik yang kuat, baru digulung. Kalau tidak begitu ikanmu lari)

Disaat berikutnya aku dapet lagi, aku menuruti sarannya. pancing ditarik dulu, baru dikerek..alias nggulung senar pancingnya. tapi....


Monday, 7 May 2012

hanya bintang


Kami melihat bintang yang sama. Di tempat yang sama. Di waktu yang sama. Sayangnya, bulan sama sekali tidak menampakkan wujudnya. Atau, tertutup pepohonan. Aku kurang yakin ia benar-benar tidak ada karena malam ini cerah. Yah, bukan masalah besar. Bintang-bintang saja sudah cukup. 

“Aku ingin sekali mengantarmu pulang. Sungguh. Tapi aku ga mau nanti kamu kena marah karena ini sudah larut sekali”, katanya.

“Aku akan baik-baik aja. Tinggal telepon tante, dia pasti mau bukain”, Aku meyakinkannya. Sejujurnya aku lelah sekali. Ingin pulang dan tidur. Kemarin malam agak kurang baik bagiku, sehingga aku menghabiskan waktu yang seharusnya untuk tidur dengan menonton dvd.

“Kamu pasti dimarahin. Lagian ga enak diliat tetangga kalo aku memulangkanmu malam-malam”. Bahkan dalam gelap aku bisa melihat mata coklatnya, mata yang aku kagumi. Walau entah aku tidak dapat membaca dirinya dari mata itu. 

“Haha, kamu ngomong gitu kayak baru sekali ini aja ngajak pergi mpe malem”


“Ah, aku tahu…kamu masih kangen sama aku”, candaku.

Dia menyalakan rokok, lalu tersenyum padaku dan berkata, “GR…haha”.


Monday, 30 April 2012

antara halo dan bye

Kata orang, cinta tak harus memiliki. Tapi lain halnya untuk aku. Bila menginginkan seseorang, aku tidak pernah tidak bisa mendapatkan orang itu. Jatuh cinta sama kamu itu berkah. Untuk mendapatkanmu adalah tantangan. Sudahkah aku mengatakan tadi bahwa aku lebih suka mengejar daripada dikejar?. Iya, aku ingat sejak pertama aku melihat kamu, aku berusaha hadir di tiap keberadaanmu. Aku berusaha ada di lingkungan pergaulanmu. Aku berusaha menjadi diriku sendiri agar membuatmu nyaman bersamaku. Aku mengesampingkan rasa cemburu dan ingin memiliki yang terlalu besar ketika mendengar kamu memuji wanita lain di depanku.

Tidak dalam sekejap, akhirnya aku benar-benar bisa memiliki kamu. Hanya saja, mempertahankan apa yang kudapatkan tidak semudah usahaku meraih cintamu. Aku merusak kepercayaanmu. Aku sendiri yang menghancurkan hatimu. Aku yang lalu hidup denganmu tapi tak merasakan cintamu yang tulus lagi karena kamu takut aku akan menyakitimu lagi. Kamu tak lagi mengagumi aku seperti dulu. 

Kehadiranku sekarang lebih sering menyakiti daripada membuatmu bahagia. Ketika aku tak bisa menuruti keinginanmu. kamu terluka. Ketika aku berkata kasar tak tahan dengan perlakuanmu, kamu sakit hati. Ketika aku tak bisa kamu buat mengerti akan keadaanmu, kamu menderita. Kamu tak ingin aku mengingat masa lalu. Tapi kamu selalu mengingat kesalahanku. Tak ada istilah membuka lembaran baru denganku. Karena itulah kehadiranku membuatmu tak tenang.

Aku masih mencintai kamu. Sama seperti saat aku melihatmu 27 bulan yang lalu. 
Aku masih mengingatmu. Seperti yang pernah kamu bilang, "Aku akan membuatmu susah melupakan aku..."
Aku masih menginginkanmu. Tapi memberikan kesempatan padamu untuk menanggalkan aku sejenak mungkin yang terbaik.

Berikan cinta ini ruang untuk bernafas. Bila cupid kembali memanah panah cintanya tepat di hatimu dan hatiku lagi, kita akan bertemu kembali.

Wednesday, 1 February 2012

hide-ing

Tulisan mengenai "mau dibawa kemana hubungan kami" pasti sudah membuatmu bosan. Sama bosannya dengan menjawab pertanyaan dari orang-orang "mo nunggu apa lagi?". Jujur, aku ga terlalu suka menghadiri pesta pernikahan, meskipun undangan tersebut datang dari seorang sahabat sekalipun. Maaf teman-teman, akan aku akui bahwa aku IRI. Sudah mencari jawaban senjelimet sekalipun, ujung-ujungnya ya iri. Dan kalau aku (terpaksa) datang, susah buatku tersenyum lepas. But i do happy for you guys, dengan catatan: aku tak sedang berkaca.

Ini bagian dari keputusan seseorang memilih jodohnya. Bila lebih disempitkan lagi, ini resiko dari aku memilih dirinya. Bagi aku, apa yang enggak untuk dia. Dan yang dilakukannya padaku, tak kalah hebatnya. Dia memiliki hati baik dan maaf yang tak terhingga saat aku khilaf. Tapi beginilah kami. Bila boleh meminjam peribahasa "mengalir seperti air", aku sungguh tak tahu air ini akan bermuara dimana. 

Aku, 28. Dia, 23. Kamu salah jika berkata padaku, "nunggu apa?". Saking lelahnya mencari alasan, aku hanya diam. Dalam hati aku menjawab, "nunggu lelakiku melamar".
Tapi, jangankan melamar, dia bahkan tak berani menyebut namaku di hadapan orangtuanya. Jadi bagaimana aku harus menjawab pertanyaanmu??.

"Kalo sekarang ga mungkin, kami backstreet".

Tuesday, 17 January 2012

kami dan 2012

Sudah 2012. Sudah sekian lama merasa ga tertarik dengan gadget 1 ini. Tapi benar kata orang, orang yang tercinta selalu memberikan pengaruh pada hidup pasangannya, entah dalam hal baik, maupun yang buruk. Akhirnya aku punya blackberry juga. Jika dibilang ga pengen, aku bener-bener ga pengen punya. Tapi berhubung kekasih (walau tidak mengakui) ingin punya, aku pun (ikut) ingin punya. Mungkin lebih ke ego, karena aku ga akan bisa terima kalau cuma dia aja yang punya. Karena menghambat dia punya blackberry adalah tidak mungkin, secara semua teman-temannya secara sadar atau tidak agak memaksa dia agar segera punya. Agak muter-muter ya kalimat aku...maaf, sedang migraen :D

Sudah 2012, teknologi iya memang semakin maju. Tapi "kami" tak maju-maju. Malah mungkin mengalami kemunduran. Aku yang terbiasa (dianggap) mandiri olehnya, sehingga dia pun merasa ga harus membantu aku. Kamu tahu kan, terkadang perkataan berasal dari hati. Bukan pikiran. Suatu hari dia bertanya pada Daun (bukan nama sebenarnya).
Dia    :  Setiap hari kamu anter Bunga (juga bukan nama sebenarnya) kerja?
Daun :  Iya lah. Kalo aku bawa motornya Bunga.
Dia    : (misuh) kayak si Duri dan Mawar aja (menyebut nama seseorang yang bukan nama sebenarnya)

Aku (dalam hati) "Kenapa sayang, apa ada yang salah dengan perlakuan pria yang begitu terhadap pasangannya. Bukannya itu hal yang wajar dilakukan seorang pria, melindungi, mengantar wanitanya sampai tujuan?. Kamu tak pernah mengantar aku kerja, aku tak mengeluh, aku tak meminta. Meski dalam beberapa saat terkadang aku ingin kamu begitu. Apakah perkataanmu itu menunjukkan bahwa nantinya, setelah kita menikah pun, aku tidak punya hak untuk kamu antar dan jemput bekerja?"

Dan dia memberikan jawabannya pada suatu saat. Dia memandang aneh pria yang mau mengantar jemput pasangannya. Baginya, pria itu harus dihormati. Pria bukan Supir dan dia pun tidak mau dianggap Supir. Astaga, entah seberapa dalam aku merasa sakit hati dengan statement itu. Setiap orang berbeda, bisa saja teman-temannya tadi pun ikhlas dan memang meminta untuk mengantar, tak semena-mena disuruh oleh si wanita untuk mengantar dan menjemput. Dan sekali lagi, apa yang salah dengan perlakuan seperti itu?

My dear, sekalipun aku belum mengerti, tapi aku yakin Allah tidak membedakan umatnya yang lelaki dan perempuan. Lelaki memang pada akhirnya menjadi kepala keluarga yang harus dihormati. Dan aku sebagai perempuan, juga memahami kodrat ku.

"Allah Swt. Telah mensyariatkan seperangkat hukum yang berkaitan dengan manusia dalam kedudukan atau predikatnya sebagai manusia sebagai satu ketentuan yang sama-sama harus dijalankan oleh kaum pria atau kaum wanita. Dari sini berarti, taklif serta berbagai hak dan kewajiban pria dan wanita adalah sama. Sebab ayat-ayat , maupun hadis-hadis yang menunjuk hukum-hukum dalam persoalan-persoalan seperti di atas bersifat general (umum) sekaligus integral (mencakup), yakni berlaku bagi manusia pria dan wanita dalam kedudukan atau predikat sebagai manusia; juga berlaku bagi kaum mukmin pria dan wanita dalam kedudukan atau predikatnya sebagai orang beriman. Oleh karena itu , banyak ayat yang menetapkan bahwa taklif hukum ditujukan bagi pria maupun wanita . Allah Swt. , misalnya berfirman sebagai berikut: "Sesungguhnya kaum muslimin dan muslimah, kaum mukmin dan mukminat, pria dan wanita yang senantiasa berlaku taat, pria dan wanita yang selalu berlaku benar, pria dan wanita yang biasa berlaku sabar, pria dan wanita yang senantiasa takut (kepada Allah), pria dan wanita yang gemar bersedekah, pria dan wanita yang suka berpuasa, pria dan wanita yang selalu memelihara kemaluan (kehormatan)-nya, serta pria dan wanita yang banyak menyebut asma Allah, telah Allah sediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS al-Ahzab 33;35).

Sudah 2012. Tanggal 25 Januari nanti "kami" menginjak usia 2 tahun. Putus-nyambung-pasang-surut-tangis-tawa-marah-diam telah kami rasakan. Aku ga pernah berharap banyak dapat benar-benar ingin memiliki seseorang seperti saat ini, tapi aku merasa dia tak merasa hal yang sama. 

Sudah 2012. Tahun ini adalah jatuh tempo "kami". 
Dear, ambil aku atau tinggalkan aku selamanya.

Aku sudah tahu jawabanmu.......................................................................................................................... MAAF.


Saturday, 31 December 2011

dua ribu sekian

Entah menjelang tahun baru yang keberapa, itulah saat terakhir aku dan para sepupu bersama-sama ke gereja. Waktu itu mereka masih muda belia, belum pada punya pacar kayak sekarang (kalo sekarang dah pasti ke gerja sendiri sama para pacarnya). Dan kebetulan, aku yang tertua, pada waktu itu juga sedang jomblo. Usia pacaranku ga pernah lebih dari 3 bulan. Dan, AHA…sepertinya aku ingat, “akhir tahun” yang ini aku baru saja jomblo setelah 3 tahun berhubungan dengan seseorang. Ga lama setelah putus, Ia menjalin hubungan dengan orang lain lagi, dan agar aku segera move on, aku berdoa selama misa berlangsung.

“Ya Tuhan, Allah Bapa di surga… Pertemukan aku dengan orang yang menurut kehendak-Mu baik untukku.”

Doa itu aku ucap berkali-kali dalam hati. Walau dalam hati, tampaknya permohonanku itu seakan menempel di jidat sehingga, mereka, para sepupu yang masih muda belia itu berbisik-bisik mengguyoni (deuh, bahasa saya ancur banget yak)
“Mbak pieq pasti lagi doa pengen punya pacar baru lagi, hihihi”
   
Satu jam lebih berlalu, misa selesai. Kami berjalan menuju sebuah toko souvenir di samping gereja. Beberapa sepupu masuk dan memilih-milih kalung Rosario, atau sekedar melihat-lihat. Aku menunggu diluar bersama adik. Gak lama, aku melihat ada seorang pria (yeah, pria- karena aku yakin usianya lebih dari 29 tahun) , hampir tidak berambut alias gundul, berkacamata, tinggi, dan putih, sedang memperhatikan ke arahku dari jarak 100 meter aku berdiri. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, siapa kiranya yang diperhatikannya. Tidak ada orang lain. Dia ganteng?tidak. Tapi kemudian dia berjalan mendekati aku, aku cuma bisa berkata dalam hati,
“Di luar dia ganteng ato ga, Tuhan…tapi kok cepet skali Kau menjawab doa ku. Ini bener-bener permohonan yang paling cepat yang Kau kabulkan”

Dan benar saja, Orang ini mengajakku berkenalan. Aku mencoba membuka diri, karena selain seiman (pastinya) tapi tampaknya dia orang yang Tuhan kirim buat aku. Dia bercerita banyak selama aku masih menunggu para sepupu shopping. Bahwa Ia seorang pria mapan, rajin bekerja, dan single berumur 30 tahun (persis). Ia memiliki semacam agen koran, dan membayar beberapa anak untuk dijadikan pengantar koran ataupun penjual koran biasa yang ada di lampu merah. Ia terbiasa bangun jam 3 tiap paginya untuk menjemput koran yang lalu didistribusikannya melalui anak-anak itu. Para sepupu yang akhirnya tahu aku dapetin kenalan baru langsung bersuit-suit menggoda.

Kami berpisah setelah bertukar nomor hape dan sebulan setelah itu, penyakit ilfil-ku kambuh. Karena suatu hari dia memohon begini padaku,
“Fries, aku pengen kamu ikut di acara nikahan adekku hari Sabtu nanti.”
Aku yang paling malas datang ke acara nikahan pun nyeplos, “Aku ga punya baju”
“Tar aku sewain gaun pesta deh”
HUWAAAT, nyewain??
“Aku ga mau sewa, aku ga bisa datang,” masih keukeuh ga mau datang bukan hanya karna ‘sewa’. Tapi aku bener-bener malas. Bertemu dengan keluarga besar di awal hubungan yang ga ada apa-apa ini adalah sesuatu banget untukku. Dia tetap memaksa, sampai dia bilang akan “membelikanku” gaun, aku tetep ga mau. Pasti ada apa-apa deh kenapa dia maksa banget aku nemenin dia. Beneran deh.

Dia akhirnya cerita. Bahwa dia sempat bertunangan dengan seorang wanita yang bernama “Sisca”. Pertunangan itu putus karena Sisca berselingkuh, dan orang tua si pria ini gak tahu sama skali tentang hal itu. Tentunya, Ia tidak menceritakan hal yang sesungguhnya agar nama si wanita juga ga tercoreng banget kan di keluarganya. Pria ini bilang ingin beralibi bahwa aku adalah pacarnya yang sekarang biar dia ga sendirian datang dan ga didesak-desak terus untuk segera menikah. Membayangkan hal itu aku mual. Mulai detik itu aku menghindari sms dan teleponnya. Ga peduli lagi pada ‘doa yang dikabulkan Tuhan’.

Sekarang, menuju ke 2012 aku tidak memiliki doa yang muluk. Doa yang memaksakan kehendak. Doa yang 'hanya' meminta. 
Aku cuma ingin banyak-banyak bersyukur, bahwa siapapun dan apapun yang aku miliki sekarang, telah melengkapi aku. Keajaiban pun akan mengalir dengan sendirinya :)

Selamat Menempuh Tahun Baru 2012, #God Blessed

Saturday, 13 August 2011

emosiong

aku cuma mau marah disini, nobody wouldn't notice if i ain't share it to the social network right?..ada berapa orang sih yang rajin nengok babimerahmuda-ku?
so yeah, aku pengen marah.
marah karena selalu aku yang disalahkan tanpa mau melihat dan introspeksi dirinya sendiri.
marah karena aku capek harus hormat dan ngertiin orang lain tanpa dihormati dan dimengerti balik.
marah karena aku capek harus ngalah hanya karena aku perempuan dan lebih tua.
marah karena aku sudah ikhlas kalo memang dilepaskan tapi faktanya aku selalu diminta kembali.

aku marah kenapa begitu memuja dia yang tak memujaku

Monday, 8 August 2011

today is his Birthday

Bisa cerita apa ya aku tentang semalam menanti pukul 00.00 WIB?
yang pasti, diwarnai dengan curahan hati, kata kasar dan tangisan...
it was an acting. Bad acting to make him SOOO mad. Semoga ga terjadi lagi dan ga terlupa, jadi birthday bash yang paling menjengkelkan:D


HAPPY BIRTHDAY by the way...
much ♥ for you hunz

kebetulan

ada berapa kemungkinan persahabatan terjadi berawal dari yahoo messenger, ngobrol secara acak di chat room, iseng online ditemani secangkir kopi dan rokok?

1:10? or more?

Kebetulan sekali aku bisa mengenal sosok Dikie Nugraha. Yang waktu itu masih kerja di Lantai 5 daerah Klampis. Yang pinter desain grafis dan memilih kata dalam setiap tulisannya. Yang tergila-gila sama buku-bukunya Dee. Yang pernah rela nahan ga ngerokok di depanku. Yang sangat supportif dan perhatian ke orang-orang yang dia sayangi. Yang kemudian aku panggil Mon karna shio nya Monyet..hahah.


Kebetulan aku pernah maen ke Losmen, sebutanku untuk rumah kontrakan yang ia tinggali dengan beberapa teman lainnya. Yang sebelahnya selalu rame anak-anak band latihan dan nongkrong. Yang si pemilik rumah sering marah-marah ga jelas. Yang konsumsi tetapnya nasi goreng atau tahu tek. Yang isi rumahnya cuma meja makan, kompi, dan kasur tanpa dipan, ga lupa exhaused fan.

Kebetulan
Sampe, akirnya pindah kos dan lost contact karna dianya juga sibuk di dunia percintaan dan band.
Sampe, aku penasaran liat bandnya maen.
Sampe, aku maksa-maksa temen buat nemenin ke Colors.
Sampe, dia mengenalkanku sama bassistnya:D

Kebetulan aku sedikit tahu cerita-cerita bidadari yang pernah mampir dalam hidupnya. Juga cerita pengalaman "selalu" ga disukain ma camer. Alhamdulillah ya (Syahrini style), yang kali ini enggak gitu lagi...and yeaaah, she's sooo lovely:)

Ga kerasa, tu taon brapa kenal dia yah...jaman friendster dah. Eh sekarang si anak perantauan itu mo merantau lagi lebih jauh. Bali doank sih:D, tapi karna terbiasa jadi ngerasa ada yang hilang. Moga makin sukses, tattoonya dijamin nambah lagi, tambah berisi, tambah makmur, dan tercapai target-targetnya di tahun depan. Amiiin.

ngomong-ngomong, aku percaya kebetulan itu sudah ada yang mengatur, sama seperti rejeki dan jodoh. Beruntung sekali aku jadi temannya:D

take care then,
Jesus bless U:)