Showing posts with label coretan tangan. Show all posts
Showing posts with label coretan tangan. Show all posts

Monday, 30 May 2016

A Place Called Home

Malam minggu aku habiskan dengan menonton film “Supernova : The Knight, The Princess and Shooting Star” sendiri di kamar, dimana saya ga akan menceritakan resensi film tersebut disini, tapi kamu bisa baca di blog ini. Ada satu hal yang aku ingat betul mengapa dari sekian petualanganku, aku tetap kembali ke "rumah". 

Sederhananya, Ferre mencintai dan dicintai Rana yang telah bersuamikan Arwin. Arwin bukan sosok yang tepat untuk diduakan, tapi nyatanya siapa yang bisa mengelak dari cinta. Hingga akhir waktu, Arwin mengetahui hubungan gelap mereka dan memilih untuk melepaskan Rana pada Ferre. Rana luluh dengan sikap tulus Arwin dan memilih untuk memutuskan hubungannya dengan Ferre.

Yang tidak aku ungkapkan, begitu pula dia...kami sama dengan pasangan-pasangan lain yang tidak sempurna. Bahwa sebelum kami menikah, ada satu pria yang berharap bisa menikah denganku jika aku tidak segera dilamar oleh kekasih kala itu.

Si pria dewasa, cukup tampan, mapan dan sholeh, yang seharusnya ga perlu berpikir dua kali untuk meninggalkan kekasih yang penuh tidak kepastian dan memilihnya.

Di suatu malam di sebuah tempat, dengan hati besarnya, kekasih  memutuskan hubungan kami agar aku bisa bersama pria itu. Dia tidak menunjukkan emosi, dia tidak menunjukkan amarah, dia tetap mengantarku pulang  sampai di depan rumah.

Si pria tentu kegirangan, dan mulai menyiapkan serangkaian acara kencan untuk lebih mendekatkan kami berdua, tetapi aku menolak. Aku memilih untuk diam dirumah, memikirkan segalanya, berdoa untuk siapa yang baik untukku. Dan tepat seminggu setelah itu,  aku memilih untuk kembali pada kekasih ketimbang memulai hubungan baru dengan si Pria.

Andaikata, pada malam itu kekasih marah besar dan mengata-ngatai aku dengan kalimat kasar, mungkin aku akan tidak berpikir ulang untuk kembali padanya. Sikap seperti itu sukses membuatku merasa bersalah beberapa kali lipat dan berniat memperbaiki semua dari awal. Dan dia dengan hati besarnya itu, menerimaku kembali dan akhirnya melamar.


Jika saya update status di sosial media berlokasi di “A Place Called Home”, it isn’t about the house --my parent-in-law’s house...but that’s HIM. 

He’s my home.

Tuesday, 17 May 2016

yang ditunggu

Hal terbaik dari menangis dibawah guyuran hujan dan diatas motor yang sedang berjalan di jalanan adalah tak seorang pun akan menyadari dan memperhatikan. Air mata sibuk bercampur dengan percikan hujan atau cipratan dari kendaraan lain. Namun hal ini lebih baik ketimbang bersembunyi di ruangan tak terpakai dan jauh dari keramaian dengan resiko kepanasan. Tetap dengan konsentrasi penuh mengendarai motor, aku seolah melihat potongan-potongan kejadian dan jalan hidup yang kupilih di masa lalu.

Aku tidak pernah merasakan indahnya proses pelamaran seperti pasangan-pasangan romantis lainnya. Aku tidak merasakan bahwa aku memang satu-satunya wanita yang ingin dinikahinya. Kami memutuskan untuk menikah hanya karena sudah waktunya. Karena desakan keluarga. Karena tuntutan usia yang menginjak kepala 3. Tidak ada kejutan, tidak ada drama ataupun sandiwara. Meski demikian, aku bersyukur pada akhirnya dia bisa menikahiku.

Hari berganti hari hingga bulan berganti bulan, sesuatu yang ditunggu setiap pasangan setelah menikah tidak nampak hilalnya. Dan manusia di sekeliling seolah ga pernah lelah bertanya, memojokkan dan menyuruh. Mungkin mereka lupa bahwa anak adalah rejeki. Mungkin anak bisa “dibeli” dengan cara inseminasi atau bayi tabung, tapi kami tahu kemampuan kami. Bisa hidup dan makan keesokan hari saja kami bahagia.

Setelah genap setahun, aku mempertanyakan kembali bahagia seperti apa yang sebenarnya aku inginkan. Bahagia karena melihat teman-teman diluar bahagia dengan kehamilan pertamanya, atau keduanya?. Bahagia karena bisa makan dan menyebabkan berat badanku naik 10 kilo karena aku malas menjaga tubuh dan rambutku yang tertutup hijab?. Bahagia karena hubungan pernikahan kami yang seumur jagung namun mengalami pasang surut dan kehilangan romantisme pasangan?

Andai aku hamil, suamiku pasti menghujaniku dengan perhatian. Keluarga pasti berhenti mempertanyakan, teman-teman mengutamakan. Setidaknya, aku ingin merasakan itu.

Lalu, apakah yang aku inginkan sebenarnya adalah hamil dan punya anak, atau hamil untuk sekedar mendapatkan perhatian?.

Kemudian aku tahu. Dari segi apapun mungkin aku belum siap. Aku tidak benar-benar menginginkan seorang anak. Perhatian suami akan terbagi dengan anak. Perhatian keluarga ga lagi untukku. Emosi dan fisikku akan terkuras untuk membesarkan anak ini, sementara sekarang hanya berdua saja aku sudah merasa kelelahan. Tetapi aku egois jika aku tidak berusaha, karena suamiku menginginkan anak. Keluarganya dan keluargaku pun demikian.

Mungkin aku mengharap terlalu tinggi. Kata orang, mumpung belum punya anak pacaran dulu aja. Tapi aku lelah karena suamiku adalah orang yang paling tidak romantis. Memesankan kue tart setiap ulang tahun ku pun adalah permintaanku sendiri. Sebaliknya, aku selalu memberi yang tidak pernah dia minta. Sehingga sewaktu-waktu aku ingin dia membalas hal yang sama seperti yang aku lakukan padanya.

Hingga suatu ketika kekesalanku memuncak, aku tidak ingin pulang. Tidak ingin melihatnya untuk sementara waktu. Tidak ingin berhadapan dengannya. Tapi aku tetap pulang, lalu menata pakaian-pakaianku kedalam tas dan berencana tidak pulang esok harinya.



Aku kalah 

Tuesday, 22 July 2014

bidadari surga di bumi

Catat, aku bukan pelacur. Setidaknya aku melakukan ini semua karena aku butuh perhatian pria. Aku tak butuh uang mereka, aku tak butuh pengakuan. Bersama salah satu dari mereka di satu malam dan malam lainnya saja aku sudah senang. Tak jarang mereka membelikan apa yang aku ingin, tapi bukan itu tujuanku. Sungguh.

Aku kasih tahu ya, aku tak percaya dengan pernikahan. Melayani satu orang yang belum tentu setia membuatku sakit kepala. Memberikan cinta pada satu orang yang tidak membalas cinta sebesar yang kuberikan akan membuatku frustasi. Tidak, aku tidak mau komitmen itu.

Sesungguhnya, Aku tak pernah merasa kesepian. Mereka tak selalu ada untukku, tapi aku selalu berusaha ada untuk mereka. Aku menikmati masa-masa sendiriku. Menulis seperti ini. Menyesap cokelat hangat di sebuah cafe sambari melahap novel, atau sambil berdiam di balkon apartemen menikmati lampu kota. Menghirup aroma tanah saat  hujan dari lantai 11 bukan hal yang mustahil juga.

"Kamu yang pasang kondomnya ya sayang..."

Asli, aku membenci kondom. Mereka pikir aku berpenyakit?. Memakai kondom sama dengan bermain dengan dildo. Rasa karet. Belakangan aku menyadari, mereka cuma tak ingin aku hamil. Karena sudah terbiasa keluar di dalam.

Jangan kuatir, aku rajin mengingatkan mereka untuk tidak memakai parfum yang berlebihan saat menemuiku, dan mandi tanpa sabun setelah kami bercinta. Aku juga tidak mau meninggalkan jejak merah pada tubuh mereka. Selama tak ada yang terluka, aku yakin mereka akan tetap mencariku.

Aku, wanita baik-baik yang merawat dan melayani suami-suamimu saat kamu sibuk, tak peduli, tak punya waktu, atau terlalu lelah dengan urusan rumah tangga kalian. Tidak, mereka tidak akan memilihku dan meninggalkanmu. 

Aku janji.

Sunday, 29 June 2014

selamat pagi, pagiku


Lelaki ini.

Hingga hari ini masih jadi satu hal pertama yang aku ingat setiap kali membuka mata.
Walau ketika kulihat ponselku, tak ada balasan atas pesanku semalam atau ucapan selamat pagi lagi.

Aku jadi ingat. Ketika mencetak absensi periode 3 minggu lalu, catatan keterlambatanku minim sekali.

"Thiya, apa benar telatmu cuma 2 kali saja sebulan ini?. Saya juga punya catatan loh, dan di catatan saya kamu telat lebih dari ini"

Ibu manager HRD sampai tidak percaya aku bisa datang tepat waktu saking seringnya aku harus dipanggil dan dinasehati perkara terlambat ini. Dan sepertinya dia tidak terima kalau hanya harus memotong 2% dari gajiku bulan ini sebagai "hukuman" atas keterlambatan. 

Di bulan September, aku jarang terlambat. Dan seingatku aku terlambat banyak menit ketika harus berangkat kerja dibonceng olehnya. Entah karena ingin lebih lama denganku atau dia tipe lelaki yang berhati-hati. Dan sekali saat hari senin, bus yang aku tumpangi berjalan sangat pelan karena takut kehabisan bensin di tengah perjalanan.

*

Kembali lagi pada lelaki ini.

Kurasa aku ga salah ketika menjulukinya matahariku. Sejujurnya. Aku tak pernah menyukai pagi. Aku terlalu bahagia meringkuk di bawah selimut meski lamat-lamat kudengar burung gereja bernyanyi.
Aku tak pernah menyukai pagi. Tidurku tak pernah cukup untuk menyambut matahari terbit. Kulitku tak cukup tebal untuk disentuh udara dingin sisa semalam.

Aku tak pernah menyukai pagi. Sampai tiba saat kau rajin menyapaku. Yah, karena berkatnya aku mampu bangun pagi bahkan 2 menit sebelum alarm menyala. Karena dia pun, aku mematikan aturan ponsel mati-nyala otomatis, karena aku ga mau melewatkan ucapan selamat paginya. Dan aku belajar mensyukuri pagi, karena aku tahu dia akan menemani hariku lewat susunan kalimat di ponsel.

Hal berbeda aku rasakan ketika dia memutuskan untuk pergi. Memang sangat egois jika aku memintanya untuk tinggal hanya demi menyenangkan hariku saja. Sementara aku, pernahkah aku menyenangkannya? Tidak, jawabku sendiri.

**

Aku kerap membiarkan dia menonton tv kabel sendiri ketika menemaniku di kosan, mengabaikan celotehnya mengomentari ini itu, sementara aku sibuk membaca novel kesukaanku.

Aku menolak menyiapkan sarapan untuknya dan mungkin melewatkan morning sex ketika dia menginap, karena tiba-tiba aku merasakan hal yang aneh pada payudara kiriku.

Aku tak meluluskan keinginannya untuk berkencan di salah satu mall yang memiliki parkiran tertutup dan akhirnya kami berdua memasuki mall itu dengan kondisi kuyup.

Aku merasa baik-baik saja saat bersamanya di hari ke 2 menstruasi dan aku tidak menerima niat baiknya untuk membelikanku ice cream Haagen Dazs hanya karena dia ingin membuat moodku lebih baik.

Aku berkeras tidak mau menerima perhiasan yang dia belikan hanya karena aku takut perhiasan itu secara tidak langsung akan mengikat secara komitmen.

Aku tidak jadi memasakkan bistik daging dan rica-rica udang ala-ku ketika kami melewatkan sabtu malam minggu dan membiarkan dia mentraktir tahu tek.

Aku tidak mengurusnya, memeluknya, mengingatkan untuk makan yang banyak dan minum obat, membuatkan segelas cokelat hangat, hanya untuk membuatnya tenang saat dia sakit.

Aku tidak mengiyakan ketika dengan baik hatinya dia menyarankan aku untuk lebih mengurus diri dan menonjolkan apa yang menjadi kelebihanku.

Aku kabur, dan menolak bertemu dengannya di hari pertama aku di vonis kanker payudara stadium II B, padahal dia tahu, yang aku butuhkan adalah dia berada disisiku.

***

Aku hanya memikirkan diriku sendiri. Terlalu larut dalam euphoria bahwa aku dicintai seseorang. Terlalu takut untuk mengakui perasaaanku padanya. Terlalu banyak pemikiran bahwa dia tidak akan menerima ku apa adanya. Sehingga terlalu sering aku menyakitinya, tanpa kejelasan bahwa kami sebenarnya sudah saling memiliki. Cinta itu ada.

Jodoh dan rizki adalah rahasia Tuhan. Siapa sangka dulu Ia mengenalkanku padanya, lalu memisahkan dan kemudian mempertemukan kami lagi. Dibalik itu, aku tahu Ia bisa memiliki maksud banyak. Bukan tentang mempersatukan kami. Mungkin ada tujuan lain. 

Sudah beberapa kali ini secara tidak langsung aku selalu mengusir, dan membuat orang benci padaku. Membiarkan mereka menilaiku tak berperasaan. Terlebih dia. Aku tak mau dia tahu kalau aku ... ah sudahlah.

Syukur kupanjatkan, karena aku semakin belajar Tuhanku  dan merasa dicintai melalui lelaki yang luar biasa ini. Jika suatu hari Ia masih mengizinkan aku memperoleh kesempatan lagi, aku berjanji akan mengabdikan diriku penuh padanya.

Namun sekarang, biarlah aku berdoa untuknya. Untuk kepergiannya. Untuk kerelaannya melepasku. Untuk kebahagiaannya juga kelak. 

Terakhir,
Agar hati dan pikiranku tenang untuk melalui apa yang harus aku selesaikan tanpanya

Dia lelaki baik.
Lelaki yang baik, akan mendapatkan wanita baik. 


****

"Ibu Ananthiya, sudah siap masuk ke ruang operasi?," tanya suster Ira.
"Sebentar sus," jawabku.

Aku menaruh bolpoin dan melipat kertas kemudian memasukkannya ke dalam amplop biru muda. Aku menyerahkannya pada suster Ira.

"Tolong serahkan ini pada nama yang tertera pada surat itu, jika terjadi sesuatu padaku ya Sus," Aku tersenyum.

"Baik bu,".

Suster Ira membalik amplop dan melihat nama yang tertulis di permukaannya. Waduh namanya ga lengkap, alamatnya pun tak ada. Bagaimana aku menyampaikannya, kata Suster Ira dalam hati.

Aku membaca bahasa tubuhnya, dan tersenyum. Lalu kututup mataku dengan kelopaknya. Pagi akan segera menjelang, di meja operasi.


"Kepada Bagaskara, yang berarti Matahari"

Monday, 12 August 2013

sesat #9 - sudah biasa

Ketika menciumimu, aku terbayang wajah istrimu berbalut hijab merah muda. Ketika hendak melepas pakaianku, wajah putri kecilmu yang hadir. Ketika menaikimu, suara mama terngiang, "Kok bisa ya ada perempuan seperti itu," ujarnya saat menonton infotainment tentang seorang selebriti yang menikah lagi dengan sahabat mantan istrinya.

Aku terkesiap. Aku tak bisa melakukan ini, kataku dalam hati. Aku mulai mengambili pakaian dan sepatu yang berserakan lalu masuk ke toilet.

"Hei, ada apa?."
Dia yang nyaris telanjang menghampiri dan menggedor pintu kamar mandi.

Aku cepat-cepat memakai kembali pakaianku, mencuci mukaku yang tanpa make up, dan memasang kembali sepatu berhak 5 cm milikku. Tak menjawab pertanyaannya.

Tunggu saja sampai aku keluar.

Dia tak lagi menggedor. Aku keluar.

Dia memakai kembali kaosnya. Membuka kaca jendela sedikit. Menyalakan sepuntung rokok Black Mild.

Aku cuma berdiri menatapnya.

"Aku mau pulang. Seharusnya ini ga terjadi, aku minta maaf..."

Dia menyeruput rokoknya dalam-dalam. Diam.

"Aku akan check out. Karena kamu minta pakai kartu identitasku, brarti kamu juga harus check out."

"Segini aja?. Kita bahkan belum ngapa-ngapain," katanya sambil menjentikkan abu rokok diatas asbak.

"Segini aja. Dan ga akan terulang."

"Oh. Oke kamu nyantai aja. Sini..." tangannya terjulur mengambang di udara.

"Mungkin suatu kesalahan aku stalking media sosialmu tadi. Tapi sungguh, aku kasian sama istri dan anakmu"

"Mereka bukan tanggung jawabmu. Aku yang akan menanggung dosaku sendiri. Come on...kita sudah terlanjur disini lo."

"Kurasa ciuman tadi sudah cukup."

"Aku tahu, dompetmu ga hilang. Kartu identitasmu ada, hanya saja kamu malu mengakui bahwa kamu memang tak ingin pihak hotel mencatat namamu. Jadi kamu mengarang cerita itu. Sungguh kamu bilang jujur pun aku sudah mengerti keadaannya."

....................................




Di sebuah kantor...

Cerita seperti ini sudah biasa. Selingkuh, tapi ga dilanjutin. Ah...harusnya aku mengarang lebih baik lagi dari ini.

-F-

Friday, 3 May 2013

Perempuan Dalam Mimpi [Episode 2]


Lelaki yang sebenarnya aku tahu dari tadi sebelum aku memasuki kafe ini, yang duduk sendiri berbalut kaos bergaris putih berdasar biru di dalam no smoking area, baru saja menghampiri aku.

“Kamu perempuan yang ada di dalam banyak mimpiku bahkan ketika tidurku tidak pernah sampai ke lelap”

Raut mukanya datar. Sedikit menunjukkan kegelisahan. Aku tahu dari sorot mata bulatnya itu. Pupilnya membesar beberapa inci menatapku. Dalam. Melunturkan lamunan akan masa lalu.

Ia membuat aku memilih untuk beranjak, membawa serta postman bag dan menenteng ponsel dalam mode off. Dorongan keyakinannya bahwa Ia mengenalku begitu besar. Dadaku begitu sesak di dekatnya. Tidak. Aku tidak mengenalnya.

Aku bisa melihat dari pantulan pintu kaca bening, bahwa Ia masih berdiri ditempatnya semula sebelum aku tinggalkan. Terdengar gemericing lonceng kecil yang di letakkan di pegangan pintu kaca itu seiring hentakanku membuka dan menutup pintu.  

Freak!,” kataku dalam hati.

Sebelum akhirnya aku menepuk lembut kepalaku dan teringat bahwa aku belum membayar bill dari secangkir kopi latte yang baru kuteguk seperempat bagian itu. Dengan langkah yang berat aku terpaksa kembali ke kafe itu. Malu pada diriku sendiri kalau harus bertemu lagi dengan lelaki asing itu, dan tentu saja aku kuatir di-blacklist oleh si pemilik kafe cuma gara-gara kali ini aku lupa bayar.

Ya, aku sering sekali ke kafe itu. Suasananya begitu familiar dan hangat, berada di ujung sebuah pertigaan dekat kawasan toko-toko buku bekas. Waktu kecil, ayah suka sekali mengajakku kesana, membelikan aku buku cerita rakyat jika nilai ulanganku bagus. Beliau yang menularkan hobi membacanya padaku. Dan dari situ, Ia akan mengajakku ke kafe yang tak jauh dari situ untuk makan es krim.

Aku anak satu-satunya. Mamah memilih pulang kembali ke rumah orang tuanya di Banjarmasin, tak membawaku serta, karena menurutnya aku adalah anak perempuan berusia 7 tahun yang sulit diatur, mirip bapaknya. Setidaknya itulah yang kuingat.

Ayah membesarkan aku sendirian. Mengantar aku ke sekolah dan menjemput kembali dengan naik kendaraan umum. Rumah dan kendaraan pribadi dijual dan hasilnya dibagi rata dengan Mamah. Ayah menjadikan hasilnya sebagai tabungan untukku menikah nanti. Jadi setelah tidak memiliki apa-apa, Ia bekerja serabutan hanya untuk menyenangkanku.

Aku tidak tumbuh dengan perasaan membenci Mamah meski aku ditinggalkan. Aku tahu sebagai anak aku memiliki hak untuk marah. Tapi Ayah terlalu sabar dan menyabarkan aku.

Tatapan mata lelaki itu, mirip dengannya. Ayahku yang meninggal karena stroke 3 tahun lalu.

Aku menghela nafas. Telah sampai di depan cafe tempatku duduk bersama ayah setiap pulang membeli buku. Kafe yang sama tempat aku bertemu lelaki itu barusan.

Suara gemericing kembali terdengar. Salah satu waiter menghampiriku. Sebelum aku meminta maaf, Ia berkata “Sudah dibayar kakak itu,” sambil menunjuk tempat lelaki itu berada. Dan dia berlalu melayani pengunjung lain.

Sedikit kikuk, Ia melambaikan tangan padaku mengisyaratkan “That’s okay, not a big deal.”

Aku memicingkan mata, seraya berjalan ke arahnya memasuki no smoking area.

Ternyata ada ya lelaki yang tidak merokok?

“Maaf, aku tidak terbiasa berhutang.” 

Aku menaruh tiga lembar sepuluh ribuan diatas mejanya lalu berbalik tanpa mengucap terimakasih.

Masih mau berpikir bahwa aku perempuan yang ada dalam mimpimu?



#FlashFictionBersambung by @benzbara_
[Episode 1] ada pada blognya bisikan busuk

Wednesday, 26 September 2012

sesat #8 - 10

Pelangi

Kamu mengirim personal message padaku.
"I've been kiss by the girl that takes my eyes everyday in my college years"
Aku tahu bagaimana ceritamu tentang dia.
Dia yang mengalihkan duniamu.
Sejak 2000 kita masuk ke Fakultas Psikologi. Dia, gadis sederhana, rambut tergerai ikal, kuliah nyaris tanpa make-up, berjalan sangkuk, entah apa yang menarik darinya dibanding aku.
Aku tak setinggi dia, tapi kurva tubuhku tergambar jelas. Ga seperti dia yang selalu berdandan boyish ke kampus.
Aku yang membantumu dalam pencalonan Ketua Hima Prodi. Aku yang menemani makan siang dan terkadang malammu. Aku yang selalu iseng mengepang rambut ikal gondrongmu jika terlihat acak-acakan. Aku yang mencatatkan materi mata kuliah yang kau lewatkan. Aku yang tulus mencintaimu bahkan sejak aku tahu bahwa binar matamu masih untuknya meski setelah bercinta dengan banyak gadis lain. Aku bersyukur menahan diri tentang perasaan ini, kalau tidak nasibku pasti sama dengan mereka. Datang dan Pergi
Dari saat itu.
Hingga kini.
2000 - 2010
10 fucking years.

Langit.

Siapa bilang Ketua Hima Prodi selalu percaya diri di segala suasana. Siapa juga yang bilang vokalis band kondang sekampus selalu mendapatkan pacar yang diidamkan. Ketika gadis ini dengan cueknya melewatiku tanpa menoleh, duniaku runtuh. Cuma wangi tubuhnya yang tercium. Tidak sedikitpun aku pernah melihatnya senyum padaku. Celotehan teman-teman yang menyampaikan salam dariku pun tak digubris. Sekedar kata "salam balik" saja tidak. Apakah dia membenciku?. Memang sih, dibandingkan dengan cowok tinggi tegap dan bermobil (baca: pacarnya) itu aku enggak ada apa-apanya. Tapi otakku encer (cukup encer juga dengan hafal nama-nama pria yang pernah singgah di dunianya dari sebuah social network), aku aktif oganisasi dan bidang musik, aku kurus dan gondrong (sigh, belakangan aku tahu, kamu memang ga suka cowok gondrong).
I never have a courage.
Cuma untuk gadis ini.
Karena, aku maupun Pelangi-sahabatku- tidak pernah berhasil menghitung berapa gadis yang keluar dan masuk dalam hidupku dengan jumlah jari tangan dan kaki kami yang disatukan.
Lebih dari itu.
Hingga suatu ketika, aku dan dia bertemu lagi. Kali ini, aku mengumpulkan keberanian yang sekuat tenaga meminta nomor ponselnya. Dia tumbuh lebih matang dan cantik dari sebelumnya. Meski aku masih menyukai wajah polosnya saat di kampus dulu.
Tapi, seonggok cincin pertunangan telah melingkar di jari manis nya.
2000 - 2010 Aku memujanya.
Yes, 10 fucking years.

Embun

Akhirnya, setelah beberapa tahun perjuanganku (agak lebay) mencari pasangan jiwa selesai sudah. Aku mengenakan cincin emas putih termanis di dunia pilihan Ibunda dari mas Bumi untuk pertunangan kami. Wangi kembang dan aroma cake fondant dari acara 3 hari lalu masih menempel manis di hidung bangirku. Anggota keluarga saling bertemu dan mengenalkan diri. Karena kami akan segera menjadi satu bukan lagi dua. Mas Bumi yang mengenakan batik Pekalongan di hari pertunangan kami tampak menawan. Dia merapikan rambut ikalnya, mencukur halus dagunya, memotong bulu hidung yang kadang terlihat mencuat keluar...hihihi.
Gaun kebaya pink off-shoulder lengkap dengan kain batik, bros burung phoenix dengan 3 warna mata ruby di bagian ekor masih terselip di permukaan obi biru juga masih tergantung di pintu lemari.
Aku memeluk selimutku lebih erat. Dinginnya AC menambah inginku kembali ke alam mimpi. Aku mengambil cuti hari ini. 
Lalu...bayangan Langit tiba-tiba beredar.
Langit yang aku kenal tidak begitu. Langit yang dulu kurus dan gondrong. Langit yang pendiam kini doyan ngobrol. Langit yang menyatakan cintanya sehari setelah pertunanganku dengan mas Bumi.
Di hari Minggu yang berawan, di sebuah coffee shop. Tak sampai 2 jam aku pamit seraya berlari kecil.
I kissed him.
Thanking for loving me
10 fucking years

Pelangi

"Kamu balas ciumannya?," tanyaku penasaran. Sungguh laporannya kali ini menyakitkan. Beda dengan jika aku mendengar dia telah bercinta dengan berbagai tipe wanita sekalipun. Wanita-wanita yang tak pernah berhasil kami hitung keluar dan masuk dalam hidup Langit walau jumlah jari tangan dan kaki kami disatukan.
"Aku balas. tapi lalu aku diam. Mungkin dia lalu merasa diabaikan. Dia lari keluar cafe." Langit membuang pandangannya ke arah langit. Matanya berbinar. Malu.
"Kamu tahu, aku mendamba ciuman itu. Selama ini. Tapi aku merasa ini tidak benar. Belum saatnya. Aku ingin yang spesial." Lanjutnya.
Aku meraih dagunya dan menarik wajahnya kearahku.
"Aku yang selama ini menganggapmu spesial dan ingin mencium bibirmu."
Tapi tidak kukatakan. Aku menggantinya dengan pelukan.
Kontak fisik yang hanya bisa aku lakukan.
for 10 fucking years

Langit

3 bulan lagi Ia menikah. Ini salahku yang terlambat atau waktu yang berjalan terlalu cepat. Aku mempertanyakan untuk apa ciuman itu. Ia menjawab "Spontan", lalu menunduk. Iya, kami bertemu lagi seminggu setelah pertemuan terakhir. Aku marah dalam hati. Tidak mendapatkan jawaban yang aku inginkan. Kata-kata ini kemudian meluncur saja dari mulutku.
"Embun, aku rasa tidak perlu banyak kata untuk mengucap cinta padamu. 10 tahun aku belajar untuk memberanikan diri muncul dihadapanmu. I want you to love me."
Ia yang dihadapanku tertegun, lalu menunduk kembali sambil memilin-milin cincin pertunangannya.
Tring.
BBM ku berbunyi. Pasti Pelangi. Ku hiraukan. Aku janji akan mengantarnya ke toko buku. Tapi bertemu dengan Pelangi secara mendadak pun akan aku lakoni. Beberapa minggu lagi ia tak bisa kumiliki.
Padahal aku telah menunggu.
10 fucking years.

Embun

♪♫  One kiss and boom you're the only one for me ♪♫
Inikah rasanya dicintai?. Semua pria di masa lalu bukan tidak mencintaiku, hanya saja banyak yang bilang kalau aku saja yang terlihat berjuang mempertahankan hubungan kami. Dan kukira orang pertama dan terakhir mencintaiku adalah Mas Bumi, tentu saja karena dia menginginkan aku yang menemani sisa hidupnya.
Kamu datang disaat yang salah, Langit. Dan aku sangat mencintai Mas Bumi.
Tapi, kenapa hatiku mendadak ragu dan ingin mundur. Bibir yang kukecup sehari setelah pertunanganku adalah satu bukti bahwa aku meragu. Jika aku yakin, aku tidak akan mengkhianatinya. Aku marah pada diriku sendiri. Aku menyandu bertemu dengan Langit. Aku tak lelah bertukar kata denganmu. Astaga, 3 minggu lagi aku menikah. Aku tak boleh denganmu, Langit. Aku tak ingin membuatmu seperti dulu.

Langit yang telah menunggu.
selama 10 fucking years.

Pelangi

"Jauhi dia Embun. Kamu sudah mau menikah," Aku mengajak Embun untuk bertemu. Berdua saja. Langit tak tahu, sebab Ia akan marah jika tahu.
"Kamu mencintai dia, Pelangi. Kenapa tak kau utarakan saja padanya."
Dia tahu. Dia wanita sepertiku. Dia membaca bahwa ini bukan soal aku sangat perhatian pada sahabatku. Namun karena aku mencintai Langit. 
"Aku..." Aku tergagap. Aku lalu menangis.
Embun tiba-tiba pindah duduk disebelahku kemudian memelukku dan berkata,
"Kamu mengejar dia. Dia mengejar aku. Tetapi, harusnya Aku mencintai mas Bumi seorang."
Aku mendongak. Dia menangis tapi tersenyum.
"Aku akan bilang pada Langit, bahwa aku mencintainya juga. Hanya dengan dia aku mampu jujur apa adanya. Sesuatu yang sulit kulakukan dengan Mas Bumi. Maafkan aku Pelangi, aku egois tapi aku percaya kamu dan Mas Bumi akan mengerti."
Mengerti???
Aku tidak pernah bisa mendapatkan dia gara gara kamu sekuarang aku disuruh mengerti??
for 10 fucking years, i don't think so madam.

Langit

Telepon genggamku berdering dan menampilkan nama Embun di layarnya. Aku begitu bersemangat mengangkatnya sampai ku halo halo tak ia jawab. 
Aku hanya mendengar wanita lain yang bukan suaranya menangis terisak. Lalu, lirih kudengar Ia berkata, 
"Kamu mengejar dia. Dia mengejar aku. Tetapi, harusnya Aku mencintai mas Bumi seorang."
Ada apa ini?.
Sebentar telepon bersuara gemeresek. Aku diam dan masih mendengarkan. Menaruh gelas yang 1/4 airnya kutelan bebarengan dengan suara Embun tadi. 
"Aku akan bilang pada Langit, bahwa aku mencintainya juga. Hanya dengan dia aku mampu jujur jadi aku. Sesuatu yang sulit kulakukan dengan Mas Bumi. Maafkan aku Pelangi, aku egois tapi aku percaya kamu dan Mas Bumi akan mengerti."
Astaga, Embun. Mataku mengabur. 
Akhirnya ya Tuhan, Terimakasih.
after 10 fucking years

Embun

Maafkan aku Mas Bumi.
Kepada orang orang tua kami, keluarga dan handai tolan yang sibuk mensupport pernikahanku kelak.
Maafkan aku Pelangi.
Aku menyakiti wanita yang mencintai Langit selama ini. Wanita yang seharusnya pantas ada di sisi Langit. 
Maafkan aku Langit.
Aku terlalu pengecut untuk berbicara langsung padamu. Karena aku takut tak sanggup melepaskanmu. jadi aku hanya men-dial nomor teleponmu untuk mendengarkan percakapanku dengan Pelangi.
Karena aku telah merasakan. Waktuku hanya sampai disini. Jangan tanya bagaimana aku tahu. Jika kamu telah mendekati ajalmu, kau akan mengerti kata kataku.
10 fucking years,
the best years i ever had.

Pelangi

Aku ga bisa mengerti. Aku memukul meja dan mendorong Embun agar menjauh. Embun terkejut dan berdiri, lalu berjalan meninggalkan aku. Ga berhenti ataupun berbalik. Dia jalan dengan wajahnya yang pucat namun tenang, keluar dari cafe tempat kami bertemu. Entah untuk tujuan apa aku kemudian mengejar dia yang hendak menyeberang, namun ... Dunia mendadak gelap. 
Sampai aku sadar dan melihat ceceran darah di jalan, tepat di tempat dia menyeberang. Tapi dia sudah tidak ada. 
Waitress cafe yang telah menolongku ketika pingsan memberiku segelas air putih. "Mbak pingsan tepat setelah mbak yang tadi tertabrak Damri mbak."
"Mana dia. Mana teman saya tadi?" ujarku masih dengan debar jantung yang tak menentu.
"Maaf mbak, sudah dibawa dengan ambulance. Tampaknya teman mbak ga tertolong."
Aku menangis keras. Bukan karena Embun, tapi karena Langit yang akan terluka karenanya. Aku mendorong Embun hingga dia akhirnya pergi.
Aku mencari-cari tasku. Mengambil handphone dan menelponnya.

"Langit... Maafkan aku... Aku hendak mengabarkan bahwa... " 
maaf yang terucap paling tulus dan pasti hal paling menyakitkan yang dia dengar selama 
10 fucking years.

kantor, awal hingga akhir september 
2012

Friday, 13 July 2012

dream job

Bahagia itu memang Sederhana.

Hanya karena tulisan tentang My dream job would be di publish di blog yang bisa diisi oleh siapa saja -bikinan Rahne Putri, pemilik blog sekaligus penulis Sadgenic- aku bahagia :)

Pekerjaan sederhana yang tulus aku kerjakan dengan senang hati, baca disini

Buat kamu yang juga ingin "pamer" pekerjaan impianmu yang sederhana di dunia paralel, isi disini kawans babi :)

Selamat bermimpi. Dan Bahagia :)

Wednesday, 27 June 2012

idola

Titi berlari tanpa alas kaki,
Menyerukan kata "Kamuuuu udah mati!!!!,"
Kepada seorang laki kekasih hati,
Yang sebenarnya sudah tidak ia minati.

Bagaimana tidak, Dalu merusak mimpi gadis ranum,
Yang ingin dipuja begitu banyak decak kagum,
Cuma gara-gara ia tak mendapat cium
Iya, di akhir pertemuan bibir Titi tak berhasil ia kulum.


Karena Titi menaruh hati di pandang pertama,
Sejak audisi putaran ketiga di kota kelahirannya, Jogjakarta
Yogiswara pemilik suara alto yang asyik memetik gitar akustik di pangkuannya
Penuh dukung dan semangat saling di seru saat karantina di Jakarta

Dalu rindu riang Titi di tiap siang pulang sekolah
Slalu disempatkan menjemput jam berapapun di sela kuliah
Kini hatinya tak terperih ketika melihat ke arah kotak bergambar membuncah
Titi dan Yogiswara dikabarkan memiliki cinta yang memerah

Titi ketiduran, absen pada pagelaran Grand final,
Yogiswara duduk heran di bangku penonton dengan tangan terkepal,
Headline media "Titi hilang bagai tenggelamnya kapal"
Dalu terkikik membayangkan kepanikan dengan wajah bebal.

Pemenang sudah pemirsa tentukan,
Padahal Titi harusnya sudah satu langkah di depan,
Dia terbangun entah dimana di pinggir jalan,
Ketika mendengar deru mobil Dalu menjauh berlawanan.

(back to first paragraph)

Tuesday, 19 June 2012

Aku wanita Kartini, bukan berarti aku tak patuh pada suami

Jangan sampai air mata melunturi eyeliner dan bedak di mata dan pipiku. Aku tak sabar segera menyelesaikan pekerjaan ini, pulang lalu bebas memendamkan mukaku di atas bantal agar suara sesenggukan tak terdengar oleh siapapun dan tentu saja, hemat tisu. Pertengkaran terakhir sukses membuat aku tak dapat tidur semalaman.

Kamu tahu, bahwa ketika aku tidak dapat mengkompromikan lagi mana yang harus kupilih, impian atau cinta, aku menyerah. Aku menyerah pada dua-duanya. Aku tidak mampu memilih salah satunya.

Impianku, aku berharap kamu ada disaat aku meraihnya. 

Cinta, yang itu kamu, adalah inspirasiku untuk bisa menjadi "seseorang".

Friday, 1 June 2012

dedicated to 8-8-88

accidently I fell in love with you, i can't explain the reason why


maybe it was your enigmatic soul,
that gave me wings to fly


maybe it was your loving smile in your thick lips,
that made a warm and gentle embrace


maybe it was your soothing brown eyes,
that lit up the darkest place where I used to be


maybe it was because you saved me,
reminded me of how love feels


i don't know for sure the reason


but i do know that...


that i love you so,


there may be times that we fight, 
but for same reason I can’t stay mad at you for along time.


so i am thankful to be in your presence 
and I always wish to be with you for nothing could make me happier 
to grow old with you
 *Ameeen*


"thank 
God 
every 
day 
for
putting 
you 
in 
my 
way"

Tuesday, 8 May 2012

surat



Perempuan itu menyalakan lampu templek lalu duduk di bangku kamar. Tangannya mengambil secarik kertas putih polos dan sebuah bolpoint merk Standart warna hitam di atas meja . Sebagai alas agar sedikit tebal dibawah kertas, ia menggunakan buku Peta Dunia atau yang biasa disebut Atlas. Diluar sana, suara jangkrik saling bersahutan. Pikirannya melayang, bingung hendak menulis apa sebagai kata pembuka. Ya, Ia ingin menulis surat untuk kekasihnya di kota metropolitan. Setelah beberapa menit, mulailah Ia menulis.

........................................................................................................



berlalu bukan berarti menyerah

Kami sedang berada di sebuah coffee shop, hari Senin, di jam kerja tepatnya 14.07. Bekerja di gedung yang sama, perusahaan yang berbeda, tapi kami kompak cabut sejenak dari rutinitas. Ini bukan suatu yang biasa kami lakukan, tapi salah satu dari kami, Lana, yang akan segera menikah dan meninggalkan pekerjaannya untuk menjadi ibu rumah tangga, adalah penggagas pertemuan kali ini. Oh iya, beberapa dari kami kurang nyaman dengan hal itu, menjadi ibu rumah tangga maksudnya. Semula kamu sekolah dan kuliah hingga mengambil magister di salah satu universitas negeri, mendapatkan pekerjaan tetap dan jabatan tinggi yang diimpikan setiap wanita pada usia yang masih 24an, mendapat gaji dan segala fasilitasnya, yah seperti apartment dan mobil, lalu bertemu seorang pria tampan, mapan secara finansial dan kamu memutuskan untuk menjadi istri yang baik, tinggal di rumah, memasak, beres-beres, membesarkan anak…


Monday, 7 May 2012

hanya bintang


Kami melihat bintang yang sama. Di tempat yang sama. Di waktu yang sama. Sayangnya, bulan sama sekali tidak menampakkan wujudnya. Atau, tertutup pepohonan. Aku kurang yakin ia benar-benar tidak ada karena malam ini cerah. Yah, bukan masalah besar. Bintang-bintang saja sudah cukup. 

“Aku ingin sekali mengantarmu pulang. Sungguh. Tapi aku ga mau nanti kamu kena marah karena ini sudah larut sekali”, katanya.

“Aku akan baik-baik aja. Tinggal telepon tante, dia pasti mau bukain”, Aku meyakinkannya. Sejujurnya aku lelah sekali. Ingin pulang dan tidur. Kemarin malam agak kurang baik bagiku, sehingga aku menghabiskan waktu yang seharusnya untuk tidur dengan menonton dvd.

“Kamu pasti dimarahin. Lagian ga enak diliat tetangga kalo aku memulangkanmu malam-malam”. Bahkan dalam gelap aku bisa melihat mata coklatnya, mata yang aku kagumi. Walau entah aku tidak dapat membaca dirinya dari mata itu. 

“Haha, kamu ngomong gitu kayak baru sekali ini aja ngajak pergi mpe malem”


“Ah, aku tahu…kamu masih kangen sama aku”, candaku.

Dia menyalakan rokok, lalu tersenyum padaku dan berkata, “GR…haha”.


copying D's note



"Enamorarse de Claudia"


"lihat ke langit..bintang berjatuhan karenamu.."

kata-kata sederhana….namun cukup mencairkan kebekuan hati…

sudah lama sejak pujangga ini menganggur..dia cuma duduk termenung di sudut otak…

sudah lama sejak cupido menembakkan panah kecilnya..

sudah lama sejak aphrodite lupa akan namaku…

aku sudah merasa ada yang beda..

walau sama tersesat di dunia maya…terpisah dinding, udara, elektrik, dan binari

dan dia memang berbeda…

setelah rasakan kenyataan..bukan sekedar ucapan manis tersusun alfabet

setelah hangat merasuk..dan nadi berdetak lebih cepat…

walau jalan masih lebih berkabut dari East End…takkan tersesat

semoga bukan euforia semata…karena hati kecil terus berbisik

semoga bukan kesenangan sesaat…karena dia terlalu indah untuk jadi nyata

semoga aku bisa menjaganya…







written by Dikie Nugraha, 14 Maret 2006

Wednesday, 2 May 2012

sesat #7 - dear diary

Dear Diary,

Apa lihat-lihat?

Bukan salah saya lho.

Eh, saya salah emang?.

Enggak ah, bukan salah saya.

Kamu tahu kan kalo saya bukan tipe wanita yang suka berdandan heboh kayak mau ke kondangan. Saya bukan tipe wanita yang suka berpakaian seksi kayak mau clubbing. Saya ga suka ke salon cuma buat creambath, facial, dan menicure pedicure. Saya ga pernah menyambangi dokter kecantikan untuk suntik vitamin C apalagi botox.

Kamu tahu juga kan kalo saya wanita berusia jalan 31 tahun yang cuma berdandan sekedarnya, bahkan ketika berangkat ke kantor, saya menyapa tetangga-tetangga yang sedang menyapu, menggendong anak balitanya, pulang dari belanja harian atau sekedar jogging, dengan tanpa make up. Oh iya, saya lupa menyampaikan bahwa di umur segini ini saya masih single. Pacar pun belum punya. Aneh?

Untungnya yah, saya ga hidup di masa Emak-Bapak saya. Dimana saat itu kalau seumur 17 ga juga nikah, orang tua yang sibuk mencarikan jodohnya untuk anaknya. Sekarang saya hidup di era Kartini. Sebenarnya bukan karena keasikan bekerja sehingga saya ga kunjung mendapatkan jodoh, karena jujur saja karier saya tak segemilang wanita-wanita metropolitan yang doyan belanja Prada atau Banana Republic yang harganya ga jauh beda sama ZARA. Karena alasan hemat pun, saya lebih suka "blusukan" ke Pusat Grosir atau Mall kelas rendah agar dengan uang 500ribu saya dapat novel percintaan, buku psikologi, make-up baru, daleman baru, baju jalan dan kerja baru, dan sepatu flat baru dalam jumlah yang lebih dari 1 masing-masing item-nya.

Lalu, pergaulan saya?. Cukup luas. Dari genk semasa SD, SMP, SMA, Kuliah, trus kenalan teman dan rekanan kantor, teman-temannya mantan saya juga masih baik semua, saya sering nongkrong ke club sekedar liat band akustik dan memesan Shirley Temple, saya aktif di organisasi "anak-anak gemar membaca" jadi sebenarnya ga ada kata buntu mencari pasangan. Kata teman-teman, saya orangnya sumeh, alias suka menebar senyum. Bahkan kadang saya suka senyum-senyum sendiri (Saya sehat, tidak terkontaminasi kata "gila").

Mau tahu kenapa saya kesulitan mencari pasangan. Karena pria-pria yang naksir dan mendekati saya itu sudah beristri semua. Bahkan ada yang sudah beranak. Tetapi mohon dicatat, mereka bukan Om-om atau pria yang jauh lebih tua dari saya. Mereka masih muda. Lebih muda dari saya. Kalo kata Alena, sahabat saya, mereka itu bak "botok" sebutan orang jawa dari sejenis makanan yang dibungkus daun pisang kemudian dibakar. Luarnya daun muda, dalamnya matang karena proses hidup. 

Kamu menuduh saya pakai susuk?.
Daripada pakai begituan mending uangnya saya beliin buku buat nyumbang bacaan untuk anak-anak di Papua. Karena saya belum punya anak dari rahim saya sendiri, tampaknya hal yang paling mulia dan bermanfaat adalah membantu anak-anak Indonesia belajar membaca dan menulis kan. 

Kembali lagi, tentang pria-pria tadi. Saya menyebut pria-pria karena selama saya "naik daun" itulah, kira-kira ada 6 pria menikah yang mendekati saya. Sekedar menggoda, lalu lama-lama saya yang tergoda menemuinya di sebuah kamar hotel selepas jam kerja. Sampai pada suatu hari, istri dari si pria menikah yang terakhir memergoki kami makan siang bersama di sebuah warung soto ayam (iyaa, warung. Tapi masih aja ketahuan) karena kebetulan sang istri secara tiba-tiba ingin mampir ke bakery shop sebelah warung yang-padahal-berada-di-ujung-bumi-tak-mungkin-dijangkau-dengan-kemampuan-sang-istri-menyetir-mobil. 

Emang ya, bom waktu itu ada. Baru aja kami jalan 6 bulan, dan si dia juga udah punya niat jaga jarak sama sang istri demi saya, eh sampai akhirnya ketahuan si dia malah nurutin istrinya buat ninggalin saya. Padahal dia orangnya romantis buuaaanget (dibandingkan pria-pria menikah terdahulu) dan selama 6 bulan ini saya terlanjur 'terbiasa' dengan perhatiannya, tiba-tiba harus hilang gitu aja. Nyesek pemirsa. Setelah kejadian itu saya kapok. Gak mau lagi tergoda sama pria beristri. Gak mau lagi ada pria beristri yang ke 7. 

Itu ucapan saya 2 bulan lalu. Sampai barusan saya sadari, bahwa menantu dari tetangga saya yang jaraknya 4 rumah  di sebelah kanan rumah saya, itu (ternyata) sering mencuri pandang. Jika bertemu di jalan saat hendak berangkat kantor, dia sengaja membuka kaca jendela dengan tingkat keburaman 70% mobil Vios putihnya lebar-lebar sampai dia melewati rumah saya. Jika bertemu jam pulang kantor, dia berlagak mengelap mobilnya yang sama sekali ga kotor demi bisa berada di luar beberapa saat sebelum saya akhirnya masuk rumah. 

Dan hal itu tidak ia lakukan sekali dua kali, makanya saya bisa menyimpulkan dia pasti kenapa-kenapa sama saya. By the way, saya ga pernah bergaul sama si istri padahal kalau ga salah kami dulu satu kampus. Bahkan saya ga pernah liat ada temen cewek atau cowok yang ngapel kerumahnya, eh tau-tau dah nikah aja dia (uda gitu ganteng pula, hadeeeh). Saya yang berganti-ganti pacar dan menginginkan menikah dari 5 tahun lalu aja ga kesampaian. (Nyesek lagi).

Disaat kami secara tidak sengaja bertemu di Club House perumahan tempat kami tinggal dan dia menempati treatmill sebelah saya. Singkat cerita saja ya, karena ini saya gak lagi nulis novel, kami bercakap-cakap.  Setelah diperhatikan dari dekat, orangnya mirip Collin Farrel versi Indonesia pokoknya. Ga se-laki si Collin, tapi bentuk wajahnya dan sorot matanya mirip banget. Ehem. Sayang punya orang. KATAKAN TIDAK UNTUK SELINGKUH KALI INI!!!!. fiuh, "Ya Tuhan kasih saya jodoh dong".

Saya ga melanjutkan perkenalan itu. Saya ga lagi membalas curi-curi pandangnya. Bukan karena saya ilfil. Tapi saya udah ga mau lagi jadi benalu. Jodoh saya nanti semakin jauh. Hikz. Si Collin yang bernama Ludy ini menikah ta'aruf dengan Hayu, tetangga saya. Dijodohkan orangtua. Dinikahkan. Ga boleh pindah dari rumah orangtua. Oh pantes. Sekian. 

Lho kenapa?. Lha abis, kalau dia emang cinta banget sama istrinya ngapain dia curi-curi pandang ke saya yang notobene 11-12 sama sang istri (Cantikan saya dikit sih). Menikah dijodohkan ga selamanya ga timbul cinta sih, ga juga karena ga bahagia karena harus tinggal di Pondok Mertua Indah, tapi karena mereka sampai 3 tahun pernikahan ini belum dikaruniai putri/putra, tampaknya masa "grow old together" ini sedang berada dalam masa evaluasi. Selebihnya, saya pamit pulang. Saya gak mau denger curhat colongan dia lebih lama daripada nanti saya jatuh cinta sama dia. Karena jung-ujungnya saya juga ga akan bisa dapetin dia. Titik. Aduh bibirnya, mungil pengen dikecup...

*PLAK*

sadar Ve...

Kekapokan saya benar-benar beralasan. Selain kuatir jauh jodoh, saya gak mau nantinya suami saya juga selingkuh. Dari pengalaman saya, mereka, pria beristri dan berselingkuh, memiliki berbagai macam alasan.

1. Daru, 26 tahun, menikah 2 tahun. Mengaku bahwa sang istri tidak pernah bisa menghargai usahanya untuk menjadi suami yang baik. Dia merasa sang istri lebih sering cemberut dirumah karena merasa dinomorsekiankan daripada pekerjaan, sedangkan dia sendiri sudah malas untuk memberikan pengertian. 

2. Jibril, 29 tahun, menikah 4 tahun. Pada dasarnya pria ya begitu itu, suka tergoda. Meski dia bukan pria brengsek dan tidak merencanakan untuk menjadi pria yang tidak setia. Tapi kalau saja saya tidak menyambut gayungnya, dia juga akan berkali-kali mikir mo selingkuh. Hmm, ini salah saya berarti ya?. Jadi wanita tuh harusnya lebih tahu diri dengan status seseorang. Noted, Ve...

3. Nabel, 28 tahun, menikah 6 bulan. Kebetulan bekerja di lingkungan yang tidak sehat. Club tempat saya mingle. Yang penuh dengan orang-orang ga jelas menghambur-hamburkan uang demi kesenangan semu. Serius, jangan cari jodoh di Club lain kali. Lingkungan dan pergaulan bisa menyebabkan selingkuh akut.

4. Rei, 28 tahun, menikah 1,5 tahun. Saya sudah kenal lama sih, dia pemilik supplier Komputer di kantor saya. Tapi entah ya, setelah menikah justru rasa percaya dirinya semakin meningkat dan lalu sering menggoda saya. Oh iya, dia oke di ranjang. Ups...

5. Udji, 29 tahun, menikah 10 tahun. Yup, setelah memasuki bangku kuliah dengan segera dia menikahi pacarnya yang baru lulus SMA di kala itu. Awalnya, sang istri yang masih muda itu selalu terlihat fresh walau dirumah saja. Setelah anak kedua mereka lahir, dia semakin malas berdandan, malas memasak, dirumah hanya memakai daster belel, bau badan, dibeliin lingerie ga mau pake, diajak kemana-mana ga bikin bangga lagi. Dear para istri, menikah dengan suami bukan berarti anda telah memenangkan kompetisi diluaran sana. Jika anda tidak pandai menjaga diri, maka anda tidak akan bisa menjaga suami anda.

6. The Last, Yadra, 28 tahun, menikah 5 tahun. Dia merasa istrinya berselingkuh, karena mulai sering keluar rumah sendiri, mencari-cari topik pertengkaran, sering tidak mengangkat telepon atau bbm darinya, dan kadang menolak berhubungan dengan alasan capek. Istri loh ini yang nolak...mana boleh istri menolak hasrat suaminya, dosa lo (katanya sih). Jadinya dia "membalas dendam" abaian istrinya itu dengan memberikan saya perhatian. Usut punya usut, sang istri rupanya sedang (merasa) dilanda friginitas dan karena tidak memiliki keberanian untuk berbicara dari hati ke hati, sang istri berkonsultasi ke psikolog. Yup, kejadian ketemu di bakery itu rupanya pemberhentian perjalanan menuju tempat praktek si Dokter. Ga lama dari hari itu, saya dikirimi capture screen bbm dari sang istri, "Aku rasa kita hampir kehilangan sesuatu yang penting dalam pernikahan kita, dear...tapi aku tak mau membuatnya lebih hilang lagi." diikuti dengan caption "Maafkan aku Ve shayank, selamat tinggal..."  

Well diary, 

Segini dulu yah omelan saya. Jujur saya marah sama diri saya sendiri kenapa bisa-bisanya (hampir selalu) menarik pria beristri instead of pria single atau paling ga sudah duda. Apa wajah saya terlalu matang (baca:tua) untuk menjadi incaran pria beristri?. Tapi enggak ah, wong mereka brondong gitu. Apa saya keliatan dewasa (baca:berpengalaman) dalam hal seksual?.

Intinya, saya memang malas bertanya secara langsung apa kelebihan saya di mata mereka. Karena 4 diantara 6 menjawab, apa cinta perlu alasan?. Ooouh puhlisssss... love sama lust beda kaleeee.

Sudah ah..

Mingle lagi yuk Dy :)

Lo,
VE...

Monday, 23 April 2012

sesat #6 - cium

Ternyata ada bedanya. Ketika kamu bercinta dengan orang yang benar-benar menginginkan kamu, dan yang hanya menginginkan desahan nafasmu, jilatan nafsumu pada kelaminnya, dan peluh kenikmatan di akhir permainan. 

Ternyata ini bukan sekedar style. Bahwa setiap orang yang jatuh cinta, bukan tubuh yang Ia inginkan pertama. Tapi bibir. Bibir adalah organ indra sentuhan. Sekedar mencumbu sampai ber-french kiss, bibir lah yang mengenalkan mu kemudian dengan anatomi lain dari tubuh pasanganmu.

Ternyata dia membuatku buta. Dia bilang "aku cinta". Dan aku selalu menyukai adegan tiap adegan kami bercinta. Pertemuan kelamin yang ke tiga belas adalah yang terakhir kalinya. Sederhana.

Bibirku kalut hanya mencumbu penisnya yang terkadang berbau pesing. Juga rambut kemaluannya yang lebat seringkali tertinggal di sela-sela gigi, tersembunyi di balik lidah, atau nyangkut di tenggorokan. Bibirku ingin sesekali berkenalan dengan bibirnya yang menghitam karena rokok, merasakan nafas dan bertukar ludah beraroma kopi hitam kesukaannya. 

Dia tidak cinta. Dia terluka. Kekasih meninggalkannya dibulan ke tiga puluh lima. Salahku menerima, karena aku menyukai ketampanan dia. 

Aku mencuri bibirnya tatkala ia terpejam. Dengan gunting sekali iris, aku berlari keluar kamarnya yang ramai akan suara pria mengutuk...

"...OMOOO HANGSAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAATTTTTTTTTTTT....!!!!"   


Kalau aku homo, dia apa?. Ah tak apa...yang penting kini aku memiliki bibirnya yang memerah dan basah. Akan aku cumbu cumbu setelah sampai di rumah.





monday morning rain is (not) falling
office hour



Wednesday, 28 March 2012

sesat #5 - Beauty Case

Aku mengoleskan foundation 1 nomor dibawah warna kulit Bunda yang kuning langsat. Bundaku, berusia 55 tahun tanggal 5 April esok. Saat ini, Ia memintaku untuk mendandani wajahnya yang ayu, yang pastinya menurun padaku (Ehem, sekali-sekali memuji diri sendiri itu perlu, hehe), karena ia akan menghadiri rapat sebuah Partai yang sedang berkembang di Indonesia. Bunda memang begitu. Lebih suka beraktivitas di luar  daripada harus berada di dalam rumah dalam waktu yang lama. Bisa-bisa, 2 hari sekali Bunda mengganti posisi furniture dalam rumah saking bosannya berdiam diri. 

Aku meratakan bedak powder pada dahi, pipi, hidung dan dagu Bunda. Bunda masih melakukan perawatan wajah agar kulitnya terlihat cerah, aku mengaku kalah. Aku tak terlalu suka dengan segala bentuk perawatan. Kontras sekali dengan profesiku sebagai MakeUp Artist yang selalu berhubungan dengan berbagai macam merek rias wajah dan produk penata rambut. Aku cukup menjaga diriku dengan banyak minum air putih, makan buah bengkuang, dan mandi 3 kali sehari. Bunda menoleh ke cermin, memagut dirinya sebentar lalu menoleh padaku dan berpesan, "Jangan terlalu menyolok lho make up-nya."

Aku memulaskan eyeshadow mahoni, tembaga dan coklat pada kelopak mata Bunda yang sayu, juga menegaskan garis alisnya dengan pensil alis warna coklat. Bola matanya kecoklat-coklatan seiring dengan bertambahnya usia. Kerutan tampak pada sekitar mata. Kerutan kelelahan. Salahku juga, aku jarang sekali mengunjungi Bunda sejak aku menikah dua tahun lalu. Tapi Bunda tak pernah mengeluh. Meski aku tahu hatinya berkata lain.

Terakhir, aku membubuhkan blush-on warna peach pada pipi yang mulai menirus dan lipstik sewarna dengan bibir Bunda. Aku menoleh kearah ruang kerja disamping kamar Bunda. Disana ada Papa, seorang pria 5 tahun lebih muda dibanding Bunda dan merupakan suami Bunda setelah meninggalnya Ayah 13 tahun lalu, yang tanpa cacat mencintai Bunda dan membantu membesarkan aku, Nada, anak semata wayang Bunda, sedang menekuri layar monitor komputer di depannya. Bermain catur online.

Aku menyisir rambut Bunda yang baru kemarin dipotong pendek sebahu karena menurutnya sudah keterlaluan rontoknya. Bagian tengah mulai memutih kembali, biasanya kalau sudah begitu Bunda ribut  minta disemirkan. Waktu aku mengusulkan untuk membiarkan rambutnya memutih seperti Tante Reggy Lawalata, Ia menolak mentah-mentah. Bunda selalu ingin kelihatan berjiwa muda. 

Selesainya aku menyisir dan menata rambut Bunda, ia beranjak menuju tempat dimana Papa berada, mengecup pipi, dan berkata akan menyiapkan makan siang untuk Papa. Ini yang aku kagumi dari Bunda dan berharap bisa mencontohnya. Meski pernah tersakiti, Bunda masih setia melayani Papa yang dari setahun lalu terkena stroke permanen. Kaki dan tangan kirinya masih lumpuh sehingga untuk berjalan juga bergantung pada sebuah tongkat policare aluminium, membuatnya tak bisa bekerja kembali dan menghidupi keluarganya. Bunda mengambil alih tugasnya menjadi kepala keluarga. Sebagai putri satu-satunya, aku pun tak pernah absen membantu orang tuaku. 

Papa, ternyata pernah mengkhianati Bunda. Suatu hal yang baru aku ketahui setelah papa tiba-tiba jatuh sakit. Hampir setahun Bunda menyimpan perasaan pedih untuk dirinya sendiri, terutama setelah aku menikah, mungkin ia tak ingin menyusahkan aku yang sedang bahagia-bahagianya mengawali rumah tangga. Perempuan muda dan cantik itu, warga negara Indonesia yang bekerja sebagai Editor Tabloid Mawar, sebuah tabloid informasi bagi pekerja wanita Indonesia di Hongkong. Mereka berkenalan di situs pertemanan yang hingga saat ini masih eksis. Hubungan mereka semakin intens ketika ia menawari Papa bekerja sebagai Creative Designer tabloid tersebut. Pekerjaan yang membuatnya sebulan sekali terbang ke Hongkong meski dapat dikerjakan di balik komputer ruang kerja Papa. 

Bunda menyimpan dalam ingatannya. SMS dan e-mail mesra dari perempuan itu untuk suaminya. Begitu pula jawaban Papa yang tak kalah mesranya untuk perempuan itu. Bunda membuang jauh bayangan buruknya tentang hubungan mereka. Apa saja yang kira-kira mereka lakukan bila suaminya sedang berada di Hongkong. Kamu percaya karma?, I do. Beberapa bulan Bunda menahan, tak ada pertengkaran atau pun perselisihan sebelumnya, tiba-tiba Papa terkena stroke. Mungkinkah itu karma?.

Berada di Rumah Sakit selama 2 bulan tak menggetarkan kesetiaan Bunda. Tangisan Bunda barulah pecah ketika perempuan itu semakin menunjukkan keberadaannya pada seluruh keluarga besar kami. Sampai suatu ketika Bunda berteriak, "Kalau Mas tetap ingin berhubungan dengan dia, silahkan. Aku yang akan pergi." 

Papa, dengan ketidakberdayaannya, memilih kembali pada Bunda. Pada keluarganya. Luka itu tak pernah disebut lagi oleh Bunda. Tapi luka itu tak pernah hilang. Wajah Bunda yang kudandani tak lagi berseri-seri seperti dulu. Senyum ayu nya pun tak mampu menutupi pedih itu. Cinta mereka mungkin tak lagi sama, namun satu yang tetap dipegangnya, Komitmen akan mencintai dalam suka maupun duka. Dan tahukah kamu, Bunda kehilangan kecantikannya bukan karena usia....


Nada janji Bun, Nada akan mengembalikan senyum Bunda lagi. Nada lagi hamil 2 bulan Bun. Cucu yang Bunda nantikan 2 tahun ini. Nada ga sabar menyampaikan kabar ini sama Bunda nanti di mobil.

"Ngapain kamu senyum-senyum sendiri disitu? Ayo antar Bunda ke kantor DPD Partai P," ujar Bunda membuyarkan lamunan.

Mataku mengerjap. Beranjak dan mengangkat Beauty Case lalu mencium punggung tangan Papa menandakan pamit.

"There is no cosmetic for beauty like happiness"


officehour- 15pm

Friday, 9 March 2012

sesat #4 - wine

oke.
tenangkan dirimu, Nda.
no one knows about your relationship with him.
what am i supposed to do when emma told everything that happened last night.
marah?
nangis?
i couldn't...
aku cuma bisa diam. pura-pura excited. tapi hatiku sakit.

"...gila ya Nda, everyone knows he's married. Karna mabok aja bisa nyosor kmana-mana. Dan ini yang disosorin si Ajeng. Kayanya mang dia uda ada apa-apa sejak lama deh sama Ridho, si Ajeng kan ga into alcohol, ngapain juga kalo ga ada apa-apa juga mo disosorin..."

Aku cuma bisa tertawa kecil. Emma nyerocos. Ceritanya diulang-ulang. aku mendengarkan sekilas. selebihnya tentu saja kata-katanya hanya mengawang di pikiranku, ga sampai masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
Dua hari lalu was our boss' birthday. Dia mengajak kami, anak buahnya dinner, dilanjut nge-wine di sebuah wine house. Aku tak ikut kesana. I jut got my period, seluruh badanku rasanya sakit semua, dan aku memilih untuk tinggal dirumah saja.

aku dan Ridho.
klise.
Kami sekantor. Dia sudah menikah. Aku tahu hubungan kami terlarang, jadi kami diam-diam saja.
Mengingat aku orang yang cukup introvert, aku tak pernah membicarakan hubungan ini dengan siapapun, termasuk dengan Emma, partner in crime di kantor. Dia tak pernah suka dengan apapun yang berbau perselingkuhan. Ayahnya seorang pelaku poligami. Istrinya sudah 2, minus ibunya yang ga kuat di poligami setelah setahun pernikahan ayahnya dengan istri kedua.

I'm officially fucked up. Ga bisa ngomong apa yang ingin aku omongin itu menjengkelkan.
Dan Ajeng si manusia paling ringan tangan dan ramah di kantorku yang lagi diomongin sekarang itu jadi totally bitch in my mind. Tampang malaikat hati iblis.
Huh. Semua ingatan tentang kebaikannya padaku terhapus.
Wait...why should i mad to her?
Why not to him?
Menjadi wanita simpanan itu sudah cukup menyakitkan. Eh masih ada juga bumbu-bumbu make out dengan orang lain?. It's sucks. Ridho pernah ngomong, kalo ga akan ada wanita lain selain Dhea, istrinya dan aku, Linda, his second. Sadar ataupun mabuk, cheating with somebody else is not allowed.

"Enak mana dho, makeout sama aku atau Ajeng?," aku bertanya padanya tiga hari setelah kejadian tersebut di wine house tempat kejadian perkara. Aku sengaja mengajaknya kesitu lagi, agar lebih mendramatisir.

Ridho terkejut. Mungkin dia ga menyangka bahwa aku akan mengetahui hal itu. Oh iya, aku lupa mencantumkan bahwa Emma memang bilang mereka berdua- Ajeng dan Ridho- menyingkir dari anak-anak untuk "mojok". Bukan di tempat yang terpojok sih, hanya di kursi yang agak jauh dari yang lain.
"Kamu...tahu dari mana?," Sepertinya dia sudah mampu mengendalikan emosinya. Wajahnya tidak menampakkan rasa terkejut yang tadi. Datar.
"Banyak anak-anak disana. Aku ga perlu menyebut siapa yang melihatmu. Mungkin saking Hot-nya kamu jadi ga sadar banyak yang memperhatikan," Wajahku memerah. Antara menahan marah dan ingin menangis. 
Tangan Ridho meraih pundakku. Memijit lembut.
"Buat apa aku melakukan itu?. Kami hanya ngobrol. Menjauhnya ya karena berisik banget. Aku bahkan ga menyentuhnya sedikitpun, apalagi make out." Nada suaranya masih datar. Innocent. tapi dewasa. 
Sekali lagi ini menyebalkan. Aku ga punya bukti. Emma ga punya bukti. Tapi aku terlanjur cemburu. 
Cemburu yang bagaimana aku juga bingung. Dia kan bukan benar-benar milikku. Ah...

"Aku cuma bisa bilang ini Dho...cukuplah berselingkuh denganku. Kalo aku tahu lagi dan punya bukti kamu masih ingin main-main dengan wanita lain, aku akan bongkar perselingkuhanmu pada Dhea.Cheers....." kataku sambil mengangkat segelas wine putih lalu menyesapnya perlahan.

Ridho tak ikut mengangkat gelasnya. Dia bergeming menatapku.

Repotnya selingkuh dengan pria muda beristri ini. Belum puas saja dia. Makanya jangan menikah muda. pikirku.

Friday, 9 December 2011

salah sambung

Si wanita mengangkat telepon. (Merasa) memencet tombol sesuai dengan angka yang tertera di meja telepon. Sembari menunggu telepon diseberang diangkat, dia menoleh. Lelakinya sedang membuka pintu, bersiap-siap berangkat. 
Setelah 7 kali nada sambung, terdengar suara mengangkat telepon.

Pria : "Ehmm, Halo?!" (suaranya malas-malasan)
Wanita : (Hmm, akirnya diangkat juga). "Mas, saya mau check out." ( Buset ni si mas, kerja niat ga sih. Pake acara kayak bangun tidur sgala)
Pria : Maksudnya gimana ya Mbak?. Ini kamar 212...(Kata-katanya mengambang. Masih dengan nada mengantuk)  
Wanita : Bukan mas. Ini kamar 211. Mau check out!. (Kok bisa ga nyambung gini sih, makanya dong kalo kerja jangan tidur!)
Pria : Mbak, ini kamar 212. Saya ga ngerti maksud mbak!. (Nadanya mulai meninggi)
Wanita : (Melihat angka diatas meja, 2123 dan mencerna angka yang disebut si Pria, 212) "Gosh, maaf ya mas. Saya mencet nomornya kurang satu digit." (Langsung telepon ditutupnya dan lalu menelpon nomor yang sebenarnya sampai terdengar suara yang bersemangat tinggi)
Pria lain : "Housekeeping selamat pagi, ada yang bisa saya bantu..."

Si Wanita terkekek. Membayangkan betapa jengkelnya pria tadi. Di kamar sebelah.