"Kamu tipe cewek penggoda. Pasti banyak cowok yang kamu taklukin. Keliatan dari mata kamu, nantang kalo memandang."
Bersyukur aku dikaruniai mata yang (sampai sekarang ini) sehat. Walaupun aku hobi banget baca novel tebel dengan pencahayaan yang ga maksimal, sambil tiduran pula. Dan aku pun ga pernah makan wortel, utuh maupun di jus. Dan mata pun bisa "berbicara". Seperti saat aku memandangmu ketika kamu memandangku.
"Itu karena kamu belum kenal aku aja. Aku memang suka memperhatikan orang. Bisa jadi bahan karakter di tulisanku."
"Alibi, haha. Tapi kamu melihatku seperti itu, bukan ga ada tujuannya. Iya kan?"
"Kamu sih ngeliat aku juga segitunya. Dalem. Jadi justru karna kamu nantang, jadi ya aku bales."
"Oyah?. Aku suka...kamu. Aku tahu kamu punya dia, aku mau kok jadi yang kedua."
"Kita sama-sama jadi yang kedua. Kamu juga sudah punya istri"
Kami terbahak bersama.
Friday, 7 October 2011
Sunday, 18 September 2011
mata-matanya lelaki
Ketika aku menilaimu berbeda dengan pria kebanyakan, aku cukup yakin dua tahun berlalu tanpa kau mengkhianati aku. Tapi mengetahui ada beberapa hal yang kau sembunyikan dan baru aku ketahui berbulan-bulan setelahnya, aku mulai sadar bahwa penilaianku salah. Kau tetaplah Pria. Sama seperti pria-pria diluaran sana. Dan aku bukanlah wanita yang selama ini aku pikir, bahwa aku telah memenangkan kompetisi dengan banyak wanita muda, seksi, cantik diluar untuk mendapatkan hati, jiwa dan ragamu karena aku luar biasa memiliki kelebihan dibanding mereka.
Siapa sangka, dalam semalam kau berhasil menjatuhkan dinding kepercayaan diriku yang sudah lama aku bangun dengan susah payah selama dua tahun belakangan. Mengetahui bahwa usia tak lagi muda, sepertinya sudah bukan saatku lagi berkompetisi karena aku tahu bahwa aku akan kalah. Lebih baik menerima kenyataan bahwa semua pria memang suka "memata-matai".
Siapa sangka, dalam semalam kau berhasil menjatuhkan dinding kepercayaan diriku yang sudah lama aku bangun dengan susah payah selama dua tahun belakangan. Mengetahui bahwa usia tak lagi muda, sepertinya sudah bukan saatku lagi berkompetisi karena aku tahu bahwa aku akan kalah. Lebih baik menerima kenyataan bahwa semua pria memang suka "memata-matai".
Friday, 2 September 2011
semoga berjodoh
Orang-orang boleh datang dan pergi dalam hidupku. Tapi menemukan yang "aku" banget, dan dia juga yang sangat menyayangi aku, adalah suatu kebodohan jika aku sampai melepasnya. Usia pun bukan suatu halangan untuk menyatukan perbedaan, dan meski Cinta tak bisa digunakan untuk membeli makanan, tapi apa yang sudah digariskan tak bisa dielakkan.
Allah-ku yang Maha Tahu, biarlah apa yang menjadi uneg-unegku menjadi rahasia kita berdua. Biarlah Engkau yang mengatur hidup, rejeki dan jodohku. Biarlah Engkau sendiri yang membukakan jalan menuju padaMu tanpa ada paksaan dari manusia lain.
Aku yakin dan percaya, bila Kau sendiri yang menuntun aku, tak akan ada hal yang mustahil. Dan bila Ia jodohku, aku yakin Engkau akan meluluhkan hati orang-orang terdekatnya.
Jangan biarkan Ia pergi dari aku ya Allah...
Allah-ku yang Maha Tahu, biarlah apa yang menjadi uneg-unegku menjadi rahasia kita berdua. Biarlah Engkau yang mengatur hidup, rejeki dan jodohku. Biarlah Engkau sendiri yang membukakan jalan menuju padaMu tanpa ada paksaan dari manusia lain.
Aku yakin dan percaya, bila Kau sendiri yang menuntun aku, tak akan ada hal yang mustahil. Dan bila Ia jodohku, aku yakin Engkau akan meluluhkan hati orang-orang terdekatnya.
Jangan biarkan Ia pergi dari aku ya Allah...
Tuesday, 30 August 2011
lebaran
Harusnya hari ini, aku sudah sampai di Caruban, kota kecil setelah Saradan dan sebelum Madiun. Karena Hari Raya 1 Syawal 1432 H ditetapkan oleh pemerintah RI besok (Rabu, 31 Agustus 2011). Jadi, mau ga mau, niat kami tetap dijalankan meski tanggal 2 kami sudah harus ada di Surabaya lagi. Who is Kami? Aku dan Aris, lelakiku. Kami mo touring kesana:D, naek motor..kurang lebih 4 jam perjalanan, entah kalo ditambah istirahat2nya...Doakan kami selamat ya:)
Btw, Happy Eid Mubarak 1432 H..maaf lahir batin:)
Btw, Happy Eid Mubarak 1432 H..maaf lahir batin:)
Tuesday, 23 August 2011
penantian rahasia
Disini ku seorang diri, berteman gelisah hati
Selalu kunantikan dia melintasiku
Aku bahagia meski hanya memandangmu
“Nanti mas Rama bakal mampir, ngasih uang arisan mamanya. Kamu yang terima ya, mama mau belanja dulu,” Mama mengecup dahiku, lalu meninggalkan aku yang sedang berbinar.
Mas Rama kesini. Aku ga boleh keliatan belum mandi gini.
Aku berlari mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi.
Mas Rama muncul di hadapku 20 menit kemudian.
“Mas, kata mama kasih aja duitnya di aku,”
“Ah, tar ilang lagi…mang kamu udah bisa simpen duit?” katanya sambil mengacak rambutku.
“aku kan sudah kelas 4 mas, masa duit segitu aja ga bisa jaga,” aku cemberut
“Haha..tetep aja, kamu masih belum SMP. Ya udah ini,” dia menyerahkan beberapa lembar sepuluh ribuan.
“Besok minggu, jangan ga bangun pagi. Kita spedaan kayak biasanya. Aku bakal kasi tau yang laen, ok!” lanjutnya.
Dia pamit.
Aku senang. Meski sudah masuk SMP, mas Rama tetap mau jalanin salah satu kegiatan rutin anak-anak sekomplek tiap hari minggu. Biasanya kami; aku, mas Rama, mas Danu dan adiknya Lala, Tyas, Enda, dan beberapa yang lain bersepeda ke daerah kampus teknik negeri yang dekat dengan perumahan tempat kami tinggal.
Kegiatan yang buatku bisa memandangnya lama, bicara dan bercanda dengannya.
Tiap aku di hadapmu, tuk coba rengkuh hatimu
Tapi pandangmu slalu saja tetap terhalang
Burukkah aku hingga tak terlihat olehmu
Sudah 4 tahun aku meninggalkan perumahan itu. Pindah ke perumahan lain. Meski telah pindah, selama itu aku masih rutin mengunjungi teman-temanku di komplek yang lama. Juga mencari-cari alasan untuk bisa bertemu dengan mas Rama. Tapi, mas Rama yang makin gede mulai tak menghiraukan aku. Sibuk dengan kegiatan sekolah. Sampai suatu saat aku mampir ke rumahnya. Tante Sita, mas Rama dan seorang gadis cantik berambut pendek sedang makan siang bersama. Dikenalkan sebagai pacar pertama mas Rama.
Setelah itu, aku tak pernah lagi ke sana. Aku hidup berpindah-pindah mengikuti pekerjaan Ayah. Hilang kontak dengan teman-teman masa kecilku.
Telah lama aku, disini menunggumu
Tapi kau tak pernah tahu bahwa hatiku mencintaimu
Ingin ku teriak, kepada seluruh dunia
Agar semuanya tahu bahwa diriku mendambakanmu
Satu persatu aku temukan pada salah satu situs pertemanan. Sudah hampir 15 tahun kami ga ketemu. Yang perempuan-perempuan, kebanyakan sudah menikah, punya anak, tinggal bersama suami. Begitu pula yang laki-laki. Ada yang sudah menikah, ada yang jadi musisi, ada yang sukses bekerja di luar pulau, ada yang mengajar di luar negeri. Watta life…
Aku menemukan account mas Rama paling buncit. Karena meski aku sangat kagum padanya dulu, aku tak pernah berpikir untuk mengingat nama panjangnya, tanggal lahirnya, atau informasi lain mengenai dirinya. Atau dulu aku tahu, aku catat, tapi aku lupa menaruhnya dimana. Setelah lulus SMA, dia pindah ke luar kota untuk melanjutkan ke perguruan tinggi disana.
Terlihat dalam foto, wajahnya tak berubah. Matanya, senyumnya. Mungkin pengaruh dari seorang wanita cantik dalam pelukannya, yang belakangan aku tahu dari mama, adalah tunangannya.
Aku klik tombol Add as friend.
Dia meng’ignore-ku.
Aku klik lagi tombol Add as friend setelah aku mencantumkan private message, yang isinya mengingatkan siapa diriku.
Dia tetap meng’ignore-ku.
Aku kecewa. Entah apa alasannya, dia tampak seperti tidak ingin berhubungan dengan teman lamanya…yaitu aku. Karena teman-teman masa kecil yang lain sudah tampak nyaman berada dalam friendlist-nya.
Betapa letihnya hatiku menanti akan cintamu
Cinta yang aku tahu pasti tak mungkin terbalas
Akankah aku hidup dalam penantianku
Dia memang pada akhirnya bukan satu-satunya pria yang pernah aku damba. Beberapa orang telah masuk dan keluar dari hidupku. Tapi dalam hati, ‘cinta monyet’ku padanya masih ada, belum pernah padam. Aku menerima keadaan telah berubah sejak kepindahanku. Aku menerima keadaan kehilangan waktu untuk bersamanya di saat dulu. Dan sekarang yang aku ingin hanya, mengutarakan perasaanku yang sebenarnya, hingga aku tak perlu menyimpannya seumur hidup. Tak perlu jawaban.
Kesempatan itu tak pernah ada. Akhirnya saat dia melangsungkan pernikahan, aku mengubur dalam-dalam perasaan itu. Sudah tak sepatutnya aku mengharapkan dia.
~taken from Penantian Rahasia by Maia~
Monday, 22 August 2011
amoeba
Bersama kamu, Bayu, aku menjalani 333 hariku dengan rasa aman dan nyaman. Bersama kamu, Edo, 65 hari diantaranya penuh percikan asmara, cemburu dan rahasia. Aku mencintai kamu, Bayu, karena cuma kamu yang mengerti inginku, kelebihan serta kelemahanku. Aku mencintai kamu, Edo, karena cuma kamu yang mampu meluruhkan kesetiaanku.
hatiku tidak mendua, diriku lah yang membelah.
Saturday, 20 August 2011
ruang tunggu
andai aku tak pernah mengenalmu, aku tak bisa belajar hal-hal yang baru. andai aku tak pernah mencintaimu, aku tak akan merasa sakit saat kau tinggalkan. andai aku tak berlapang dada, aku pasti telah membencimu.
tapi inilah aku,
aku pernah mengenalmu, sehingga aku bisa belajar hal-hal baru. aku pernah mencintaimu, sehingga aku mampu merasakan sakit saat kau tinggalkan. aku telah berlapang dada, sehingga aku tidak bisa membencimu.
jadi,
sekasar apapun perkataanmu,
sekeras apapun nada bicaramu,
sekuat apapun dirimu berusaha menjauhkan aku,
sekalipun aku bilang membencimu...
tidak,
aku tak akan pergi.
Subscribe to:
Posts (Atom)